Ulasan Buku Anne of Avonlea

Anne of Avonlea adalah buku kedua dalam seri Anne of Green Gables, kelanjutan yang logis bagi aku untuk nulis review buku ini setelah review Anne of Green Gables minggu lalu. Anne of Green Gables menceritakan beberapa tahun pertama Anne diadopsi hingga dia lulus sekolah Queens lalu buku ini menceritakan beberapa tahun berikutnya yaitu ketika Anne berusia 16 sampai 18 tahun. Kalau buku yang pertama bisa dideskripsikan sebagai “tahun-tahun Anne menjadi pelajar”, buku ini bisa dideskripsikan sebagai “tahun-tahun Anne mengajar di Avonlea” karena di tahun ini, akhirnya, Anne menjadi guru! Dia mendapat jabatan sebagai guru di sekolah dasar Avonlea setelah di akhir buku sebelumnya lulus dari Queens.

Sinopsis secara umum

Buku pertama, Anne of Green Gables, diakhiri dengan wafatnya Matthew dan keputusan Anne untuk kembali tinggal di Avonlea meskipun ia punya keinginan untuk melanjutkan studi ke Redmond College. Ia berniat tinggal di Avonlea karena ingin menemani Marilla yang sekarang tinggal sendirian dan kesehatannya memburuk. Saat tahu bahwa Anne akan bertahan di Avonlea dan mengajar, ia mendapatkan posisi mengajar di sekolah Avonlea sementara Gilbert (yang lulus bersamaan dari Queens) mengajar di White Sands, desa tetangga.

Buku Anne of Avonlea diisi dengan cerita-cerita selama Anne menjadi guru di sekolah tersebut. Dari yang menyenangkan hingga bikin ingin berhenti mengajar, juga kehidupan pribadi Anne selama dia jadi guru. Anne dan Gilbert sudah berteman baik di buku ini dan Gilbert sering bertamu ke rumah Anne untuk mengajak Anne mengobrol dan jalan-jalan berdua.

Anne dan Gilbert, bersama beberapa teman mereka yang lain yaitu Diana, Fred, dan Jane berinisiatif untuk mendirikan Avonlea Village Improvement Society. Organisasi pemuda yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan di Desa Avonlea. Pada awalnya mereka dianggap remeh oleh warga, apalagi banyak warga desa yang memang sudah tua. Terlebih lagi salah satu proyek awal mereka adalah menggalang dana untuk mengecat bangunan desa yang warnanya jelek. Ini membuat mereka menerima berbagai kritik dari warga desa secara langsung. Namun mereka malah berhasil mendapat simpati warga setelah gagal mengecat ulang bangunan tersebut. Sepertinya warga yang lain merasa kasihan dan merasa bahwa para pemuda ini benar-benar berusaha keras sehingga mereka ikut merenovasi bangunan masing-masing supaya pemandangan desa semakin indah. Anggota organisasi ini pun semakin bertambah jumlahnya dan kiprahnya terus berlanjut hingga bertahun-tahun kemudian.

Ada beberapa kejadian penting di buku ini, yang pertama adalah adopsi sepasang anak kembar oleh Marilla. Davy dan Dora adalah anak dari teman atau kerabat jauh Marilla yang kebetulan orang tuanya meninggal dan butuh tempat tinggal sementara sampai paman mereka dapat dihubungi. Davy dan Dora membawa warna-warni baru ke dalam kehidupan Green Gables yang tidak diisi dengan anak-anak. Kenakalan Davy berkali-kali membuat Anne dan Marilla marah namun lama-kelamaan mereka semakin sayang pada kedua anak ini. Hingga akhir buku, paman mereka tidak kunjung menjawab dan malah meninggal, namun meninggalkan uang seribu dollar (yang pasti banyak banget di masa itu) untuk biaya mengurusi Davy dan Dora sampai mereka besar di Green Gables.

Kejadian penting berikutnya adalah meninggalnya suami Mrs. Lynde. Mrs. Lynde, nama lengkapnya Rachel Lynde, adalah tetangga yang rumahnya paling dekat ke Green Gables. Ia salah satu orang yang cukup dekat dengan Marilla meskipun keduanya sangat berbeda perangainya. Marilla sangat pendiam dan cenderung cuek sementara Mrs. Lynde dikenal sebagai tukang gosip yang mengetahui segalanya yang terjadi di desa mereka. Di buku ini suami Mrs. Lynde meninggal dunia. Mrs. Lynde yang sekarang harus hidup sendiri kemudian memilih untuk tinggal bersama Marilla untuk menemani Marilla dan membantunya mengurus kedua anak kembar di atas.

Fakta bahwa Marilla tidak lagi tinggal sendiri dan sekarang memiliki uang untuk kehidupan sehari-hari membuat Anne memutuskan untuk melanjutkan studi ke Redmond College di buku berikutnya.

My thoughts

Anne dan Gilbert dua-duanya adalah guru dalam buku Anne of Avonlea, jadi, latar belakang sekolahan adalah sesuatu yang penting sekali di sini. Tapi ada beberapa hal menarik yang sadari waktu baca buku ini. Soal sekolah Avonlea, yang aku pahami dari sekolah ini adalah, 1) cuma ada satu guru yang mengajar semua murid dari usia paling kecil mungkin 7/8 tahun hingga 14 tahun; 2) cuma ada satu ruangan dan semuanya belajar bareng-bareng; 3) semuanya belajar hal yang sama??? Semakin dipikirin aku semakin bingung sih, meskipun aku sadar pasti sekarang keadaan semacam ini masih terjadi di pedalaman-pedalaman Indonesia yang satu sekolah cuma punya guru satu dua orang dan satu guru harus mengajar beberapa kelas. Agak sedih, ya, tapi dipikir-pikir kalau satu angkatan cuma akan ada tiga orang doang ya kurang efektif juga untuk bikin kelas yang berbeda-beda. Uang dari mana? Udah gitu siapa yang mau ngajar? Dan kalau mau bikin sekolah sentral, takutnya malah anak-anak jadi malas harus jauh-jauh berjalan menuju sekolah jadi memang lebih baik ada sekolah di desa meskipun pengurusnya cuma sedikit.

Hubungan Gilbert dan Anne masih gemes banget di sini, di awal buku (atau di akhir buku yang lalu?) sebenarnya Gilbert lah yang mendapat posisi mengajar di Avonlea, tapi dia ngasih posisi itu kepada Anne karena menurut Gilbert, Anne lebih membutuhkan posisi yang dekat dari rumah supaya dia bisa lebih sering menemani Marilla. Sementara itu, Gilbert mengambil posisi mengajar di White Sands. White Sands adalah salah satu desa tetangga Avonlea, jadi Gilbert hanya bisa pulang ke rumah setiap akhir minggu. Waktu aku cek di fandomwiki, katanya jarak White Sands ke Avonlea cuma 5 miles which is 8,5 km yang sesungguhnya deket banget. Tapi di masa itu kayanya jarak ini termasuk jauh karena mereka berkendara pakai kereta kuda. Menarik banget kalo aku pikirin sekarang. Sekarang tuh orang-orang bisa commute lebih dari 50 kilometer perhari, bayangin kalo rumah di Bogor terus kerja di Bekasi, berapa km coba tuh? Pas aku baca-baca lebih jauh sebenarnya bisa aja sih orang-orang Avonlea bolak-balik ke White Sands dalam sehari, apalagi kalau mau belanja atau bertamu, tapi kalau untuk commuting tiap hari, kayaknya nggak mungkin. Makanya si Gilbert ngekos.

Favorite Quotes from the Book

“Perhaps, after all, romance did not come into one’s life with pomp and blare, like a gay knight riding down; perhaps it crept to one’s side like an old friend through quiet ways; perhaps it revealed itself in seeming prose, until some sudden shaft of illumination flung athwart its pages betrayed the rhythm and the music, perhaps.. perhaps… love unfolded naturally out of a beautiful friendship, as a golden-hearted rose slipping from its green sheath.”

–L. M. Montgomery

Kutipan di atas, yang sebenarnya berasal dari akhir buku, itu favorit aku banget. Ini sesuai banget sama apa yang aku sendiri percaya, bahwa cinta itu mungkin akan datang dari persahabatan, dari teman lama yang sedikit demi sedikit saling peduli terhadap satu sama lain, sehingga ketika cinta itu datang, tidak ada perasaan kaget, hanya kesadaran bahwa perasaan kita sudah berubah. Dari pertama kali aku membaca buku ini, kalimat di atas terngiang-ngiang banget dan merupakan sesuatu yang ingin sekali aku alami.

We make our own lives wherever we are, after all… college can only help us to do it more easily. They are broad or narrow according to what we put into them, not what we get out. Life is rich and full here… everywhere… if we can only learn how to open our whole hearts to its richness and fullness.

Kutipan di atas diucapkan oleh Mrs. Allan, istri pendeta desa Avonlea, menurutku kalimat di atas bisa jadi penyemangat bahwa kitalah yang menciptakan kehidupan kita. Memang, perkuliahan akan membuatnya menjadi lebih mudah, tapi meskipun tanpa kuliah, hidup tetap kaya apabila kita dapat membuka hati kita ke kekayaan hidup.

A broken heart in real life isn’t half as dreadful as it is in books. It’s a good deal like a bad tooth… though you won’t think THAT a very romantic simile. It takes spells of aching and gives you a sleepless night now and then, but between times it lets you enjoy life and dreams and echoes and peanut candy as if there were nothing the matter with it. … That’s the worst… or the best… of real life, Anne. It WON’T let you be miserable. It keeps on trying to make you comfortable… and succeeding… even when you’re determined to be unhappy and romantic.

Kutipan yang terakhir itu dikatakan oleh Miss Lavendar, teman baru Anne di buku ini yang jadi dekat banget sama Anne. Ia pernah mengalami sakit hati yang sangat parah di masa mudanya ketika ia bertengkar dengan pacarnya lalu mereka putus. Ketika ditanya, Miss Lavendar sendiri tidak ingat apa penyebab pertikaian mereka, namun itu adalah sesuatu yang kecil tapi bertambah terus lalu ketika salah satu di antara mereka minta maaf, yang satunya merasa gengsi sehingga pacar Miss Lavendar pada waktu itu meninggalkannya untuk bekerja di Amerika Serikat. Miss Lavendar merasa sedih sekali tentu saja, tapi meskipun begitu, ia meyakinkan bahwa meskipun sakit hati sangat menyakitkan, kehidupan kita akan tetap menarik kita untuk maju ke depan.

Menurut aku itu adalah sesuatu yang sangat menghibur. Kebanyakan dari kita pasti pernah merasa sedih banget sampai nggak mau ngapa-ngapain lagi, tapi kita harus ingat bahwa dunia terus berjalan, kehidupan orang-orang lain terus berjalan. Memang, waktu kita sedang mengingat-ingat kenangan masa lalu, pasti akan menangis terus. Tapi di antara tangisan-tangisan itu, kita masih bisa kok menikmati hal-hal kecil di hidup ini. Seperti makanan yang enak atau film yang menarik. Hidup tidak akan membiarkan kita terus berkubang dalam kesedihan.

Sekarang kalau dipikir-pikir, aku setuju sih kalau hal itu positif sekaligus juga negatif. Negatif karena pada saat-saat seperti itu tentu kita ingin terus bersedih kan, merasakan emosi terus-terusan. Tapi memang pada kenyataannya dunia terus berputar. Bagusnya sih kalau kita punya orang-orang suportif di sekitar kita, akan ada yang membantu menyokong kita kembali ke kehidupan biasa. Tapi kalau tidak ada? Biasanya orang akan terpaksa melanjutkan hidup sehari-hari karena tanggung jawab sih, mau makan apa kalau bersedih terus?

Kata-kata Terakhir

Seperti buku-buku lain di seri ini, buku ini juga merupakan buku yang nyaman untuk dibaca. Banyak kalimat menarik yang bisa dijadikan motivasi hidup menurutku hahaha. Banyak juga pengalaman Anne dan kawan-kawannya yang pasti bisa berkenaan dengan kehidupan kita sehari-hari. Tentu saja aku masih senangggg banget ngeliatin perkembangan hubungan antara Anne dengan Gilbert. Baru di akhir buku Anne merasa punya perasaan yang berbeda pada Gilbert. Di buku ketiga, Anne dan Gilbert akan kuliah di Redmond College. Apa yang akan terjadi selanjutnya??? Tentu saja ada di buku berikutnya.

4 Comments

  1. Buku yang menarik ya. Nyaman. Jadi pengen ikutan baca. Cerita klasik itu bikin kita berasa tinggal dan bertualang di tempat dan suasana yg kadang2 bisa beda banget dgn kehidupan sehari2. Kalau habis baca klasik kaya banyak aja dapat pesan moral gitu. 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s