Ulasan Anne of the Island

Anne of the Island adalah buku ketiga dalam seri Anne of Green Gables, seri klasik yang sedang berusaha aku baca dari awal sampai akhir. Kalau ingin membaca ulasanku dari awal, bisa mulai membaca dari ulasan buku yang pertama. Buku ini menceritakan kehidupan Anne saat dia berusia 18 tahun hingga 22 tahun. Di akhir buku pertama, Anne telah lulus SMA di Queens dan ingin melanjutkan kuliah namun terpaksa menunda rencana itu karena keadaan di rumah, seperti Marilla yang sekarang hidup sendirian dan sakit mata sehingga tidak bisa mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Di buku kedua, Anne memutuskan untuk mengajar beberapa tahun di Avonlea sembari belajar untuk melanjutkan studi saat kondisinya memungkinkan. Untungnya, kondisi di rumah Anne membaik. Marilla mengadopsi sepasang anak kembar, dan mendapat uang dari keluarga anak kembar tersebut; Mrs. Lynde, tetangga mereka, memutuskan untuk tinggal bersama karena suaminya meninggal; dan tetangga mereka ingin menyewa ladang Marilla sehingga Marilla akan mendapat pemasukan lagi.

Dalam ulasan sebelumnya, aku mendeskripsikan buku pertama sebagai “tahun-tahun Anne menjadi pelajar” dan buku kedua sebagai “tahun-tahun Anne mengajar di Avonlea” Buku ketiga ini bagiku menceritakan “tahun-tahun Anne menjadi mahasiswi di Redmond College”. Menurutku ini adalah salah satu buku paling menyenangkan dalam seri ini karena di sini Anne adalah seorang wanita muda yang berkelana di kota, tinggal bersama teman-temannya, bertemu banyak teman baru, memiliki kehidupan percintaan, dan tetap ada juga teman-teman lamanya. Sepertinya, alasan buku ini berjudul Anne of the Island adalah karena Anne akhirnya berkelana keluar dari pulaunya, Pulau Prince Edward. Dari desa Avonlea, ada tiga anak yang pergi ke Redmond pada tahun ajaran itu, yaitu Anne, Gilbert dan seorang teman mereka, Charlie Sloane.

Mereka berangkat dari Avonlea naik kereta lalu naik kapal hingga ke Kanada daratan. Redmond College terletak di Kingsport, ini adalah sebuah kota yang ramai. Aku ingat Anne cukup takjub waktu melihat keramaian kota, banyak kendaraan dan banyak orang, ini adalah pertama kalinya dia tinggal di kota. Kingsport dideskripsikan sebagai kota tua yang memiliki ciri-ciri zaman kolonial. Ada campuran bangunan modern dengan bangunan masa perintis ketika orang-orang kulit putih baru datang dari Eropa dan bertemu dengan bangsa Indian. Selama kuliah, sahabat-sahabat Anne adalah Priscilla Grant dan Philippa.

Sebenarnya di buku ini tidak banyak diceritakan soal kehidupan sekolah Anne, hanya diceritakan secara garis besarnya saja. Seperti tiba-tiba sudah ujian, tiba-tiba sudah libur musim panas, tiba-tiba sudah kelulusan. Dan di akhir buku Anne sudah lulus kuliah. Di buku ini kita bisa hubungan Anne dengan teman-temannya dan juga keluarganya di Green Gables. Dan menurutku, satu yang paling menyenangkan di buku ini, adalah romansa dalam kehidupan Anne! Tapi tentu saja semakin dewasanya Anne membuat dia akan melewati berbagai kejadian-kejadian penting dalam kehidupan. Ada beberapa kejadian penting yang ingin aku bahas di sini.

Kematian Seorang Teman

Semakin dewasa, tentu kita akan mengalami banyak orang yang datang dan pergi dalam hidup kita.  Anne sendiri mengalami kehilangan seorang teman sebayanya di buku ini. Tentu ini mengejutkan untuk Anne dan teman-temannya karena mereka semua masih sangat muda, bagaimana bisa seseorang yang masih muda meninggal dunia? Ruby adalah teman sebaya Anne yang sering dianggap anak yang terlalu peduli pada penampilannya dan juga pada laki-laki.

Kita bisa membaca kekhawatiran Ruby saat ia tahu bahwa sebentar lagi ia akan meninggal karena penyakitnya. Semakin lama ia semakin lemah, tidak bisa berjalan jauh, tidak bisa pergi dari rumah, hingga suatu hari ia hanya bisa tiduran saja di tempat tidurnya. Ia takut mati karena meskipun ia meyakini kehidupan setelah kematian, itu bukanlah sesuatu yang sudah biasa dilalui. Ruby sedih karena dia masih muda, masih ingin melanjutkan hidup, ada banyak hal yang masih ingin dia lakukan. Ia ingin menikah dan mempunyai anak. Ruby menyatakan berbagai kekhawatirannya pada Anne di buku ini tidak lama sebelum dia meninggal.

Jonas

Kita mengenal Jonas dari Philippa Gordon, salah satu sahabat Anne di kampus Redmond. Philippa Gordon adalah seorang perempuan muda yang cerdas dan sangat cantik sehingga ia memiliki banyak pengagum di sekitarnya. Ia sering diundang ke pesta-pesta dan di kampung halamannya, Philippa mempunyai dua orang laki-laki yang menunggunya dan ingin menikahi Philippa. Philippa sendiri selalu kebingungan dan tidak bisa menentukan pilihan antara kedua laki-laki tersebut.

Pada salah satu liburan musim panas, Philippa menginap di rumah salah satu sepupunya yang memang menyewakan beberapa kamarnya. Kebanyakan penyewa adalah ibu-ibu tua, tapi ada seorang laki-laki muda yang menarik perhatian Philippa, tapi kesan pertamanya tidak begitu baik. Dalam suratnya kepada Anne, Philippa menulis,

He is a very ugly young man – really, the ugliest young man I’ve ever seen. He has a big, loose-jointed figure with absurdly long legs. His hair is tow-color and lank, his eyes are green, and his mouth is big, and his ears – but I never think about his ears if I can help it. He has a lovely voice – if you shut your eyes he is adorable – and he certainly has a beautiful soul and disposition.

He didn’t look so homely by moonlight and oh, he was nice. Niceness fairly exhaled from him… because he evidently likes the society of frivolous me better than theirs. Somehow, Anne, I don’t want hi to think me frivolous. This is ridiculous. Why should I care what a tow-haired person called Jonas, whom I never saw before think of me?

By the time he had preached ten minutes, I felt so small and insignificant that I thought I must be invisible to the naked eye. Jonas never said a word about women and he never looked at me. But I realized then and there what a pitiful, frivolous, small-souled little butterfly I was, and how horribly different I must be from Jonas’ ideal woman. SHE would be grand and strong and noble. He was so earnest and tender and true. He was everything a minister ought to be. I wondered how I could ever have thought him ugly – but he really is! – with those inspired eyes and that intellectual brow.

Philippa yang terbiasa hidup di keluarga kaya dan dikelilingi banyak laki-laki tampan kemudian merasa ia jatuh cinta pada laki-laki berwajah biasa (bahkan jelek sebenarnya) yang sedang berlatih untuk menjadi pendeta. Jonas sendiri cukup minder ingin menikahi Philippa karena dia sadar Philippa berasal dari keluarga kaya sementara Jonas miskin dan profesinya, yaitu pendeta, tidak menjanjikan banyak uang di masa depan mereka. Philippa juga awalnya tidak mau mengakui bahwa dia tertarik pada Jonas karena kebaikan hati Jonas dan kemampuan Jonas dalam berceramah, namun sepanjang sisa perkuliahan, Jonas sering bertamu ke kediaman Philippa dan hubungan mereka semakin dekat.

Tak lama setelah lulus, Philippa menikahi Jonas dan Anne menjadi pendampingnya. Setelah menikah, Philippa akan tinggal bersama Jonas di sebuah daerah kumuh karena Jonas akan menjadi pendeta di sana. Bagiku ini sesuatu yang sangat menarik, kadang apa yang kita impi-impikan bukanlah sesuatu yang terjadi sebagaimana kenyataannya tapi mungkin itulah jalan hidup yang akan membuat kita bahagia.

Kehidupan Percintaan Anne

Kehidupan percintaan Anne adalah sesuatu yang menurutku sangat menarik dan merupakan salah satu daya tarik buku ini. Di awal cerita ini, Anne sudah berusia 18 tahun dan sepertinya sudah merupakan usia yang dianggap mapan untuk menikah pada saat itu. Seorang teman sebaya Anne, Diana, bertunangan di awal buku ini sehingga membuat Anne juga ikut memikirkan soal pernikahan meskipun ia sendiri tidak merasa mempunyai perasaan spesial kepada laki-laki mana pun.

Di buku ini, Anne menerima lamaran pertamanya! Tapi lamaran itu benar-benar underwhelming karena Anne mendapat lamaran ini dari temannya, Jane Andrews, yang mengatakannya atas nama kakaknya, Billy Andrews. Jadi, Anne mendapat lamaran tidak dari mulut pertama. Anne sendiri merasa kesal karena Billy tidak berani mengatakan lamarannya secara langsung pada Anne dan malah meminta bantuan adiknya. Selain itu, Anne juga tidak pernah memikirkan Billy sehingga Anne menolak lamaran itu.

Billy wants to marry you. He’s always been crazy about you – and now father has given him the upper farm in his own name and there’s nothing to prevent him from getting married. But he’s so shy he couldn’t ask you himself if you’d have him, so he got me to do it. It’d rather not have, but he gave me no peace till I said I would, if I got a good chance. What do you think about it, Anne?

Anne, sebagai seorang pengkhayal yang romantis, tentu pernah mengimpikan lamaran pertamanya. Dalam impiannya, ketika ia menerima lamaran keadaannya akan sangat romantis dan indah; dan orang yang melamarnya sangat menawan dan bermata gelap dan terlihat terhormat dan berbicara dengan baik. Tapi sayangnya lamaran pertama Anne malah datang dari orang kedua.

Sementara itu, hubungan Anne dan Gilbert semakin membaik. Gilbert sering sekali berkunjung ke kos-kosan Anne dan selalu menemani Anne dalam setiap kegiatan kampus. Sebenarnya sebelum mereka pergi kuliah, Gilbert pernah sekali menyatakan perasaannya kepada Anne, namun Anne menolak dan ingin berteman saja. Akhirnya Gilbert tetap menjadi teman baik bagi Anne, tetap menemani Anne kemana-mana, sering berkunjung ke rumahnya, tapi ia selalu berhati-hati jangan sampai tidak sengaja mengungkapkan perasaannya lagi. Meskipun begitu, Gilbert tetap tidak senang ketika laki-laki lain dari kampus mereka berkunjung untuk bertemu Anne makanya dia berusaha menemani Anne sebisa mungkin.

Tapi Gilbert tidak bisa menunggu selamanya. Karena pada akhir tahun kedua mereka kuliah, ia datang lagi untuk menyatakan perasaannya pada Anne. Sekali lagi, Anne menolaknya dengan cukup ketus. Anne menuduh Gilbert telah merusak pertemanan mereka karena perasaannya pada Gilbert hanya pertemanan saja. Setelahnya Gilbert merasa sedih dan sedikit menjauh dari Anne karena kebetulan sekali ia menyatakan perasaannya pada Anne tepat sebelum libur musim panas, ketika Anne akan pulang ke Avonlea, sementara Gilbert tidak akan pulang karena akan bekerja.

Selama libur musim panas itu, Anne merasa kehilangan. Anne tidak mau mengakui bahwa ia merasa kehilangan karena Gilbert tidak ada. Yang lebih membuatnya kesepian adalah Gilbert tidak menulis surat pada Anne sama sekali meskipun ia menulis pada teman-teman mereka yang lain.  Pada tahun ajaran berikutnya, Gilbert tetap berkunjung ke kosan Anne tapi ia tidak terlalu mencari Anne maupun menjauhi Anne. Kehidupan mereka seperti teman biasa dan Anne bersyukur karenanya.

Pada suatu hari di semester berikutnya, Anne sedang berjalan-jalan sendirian di taman dekat kosannya, ketika hujan turun tiba-tiba dan ia mendengar seseorang menawarkan untuk berbagi payung.

Tall and handsome and distinguished-looking – dark, melancholy, inscrutable eyes – melting, musical, sympathetic voice – yes, the very hero of her dreams stood before her in the flesh. He could not have more closely resembled her idea if he had been made to order.

Orang tinggi dan tampan dan bermata gelap dan bersuara indah, persis seperti laki-laki dalam impian Anne. Orang ini ternyata bernama Royal Gardner, dipanggil Roy, dan mereka berdua sama-sama kuliah di Redmond College. Setelah berkenalan, Roy meminta izin untuk kapan-kapan berkunjung ke tempat Anne. Malam itu juga, Roy mengrim satu boks berisi bunga untuk Anne, membuat Anne sangat senang dan terus memikirkan Roy.

Pada minggu terakhir Anne ada di Kingsport, beberapa hari setelah upacara kelulusan, Roy datang ke kediaman Anne dan mengajak Anne berjalan-jalan. Semua orang tahu bahwa Roy akan segera mengajak Anne menikahinya. Roy melamar Anne di paviliun tempat mereka pertama bertemu. Anne berpikir bahwa itu adalah pilihan yang sangat romantis, begitu juga dengan pemilihan kata-katanya. Anne merasa bahwa Roy mengatakan niatannya dengan tulus dan Anne seharusnya merasa sangat senang tapi ia malah merasa biasa saja. Dengan berat hati, Anne menolak lamaran Roy karena ia merasa tidak terlalu mencintai Roy. Roy merasa sedih; Anne juga merasa sedih.

Beberapa bulan setelah kelulusan dari Redmond, Anne menerima kabar bahwa Gilbert sedang sakit parah, bahkan ada yang menyebutnya sedang sekarat. Dia terserang demam tifus dan dokter mengatakan mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Anne hanya bisa berdoa mengharapkan kesembuhan Gilbert. Tapi untungnya, keesokan harinya, Anne mendengar kabar bahwa Gilbert sudah membaik dari demamnya.

Setelah Gilbert membaik dari sakitnya, Anne menyadari bahwa Gilbert sering berkunjung ke Green Gables dan Gilbert sangat ramah. Suatu hari Gilbert mengajak Anne jalan-jalan ke sebuah taman di tengah hutan. Saat itu Anne menyadari bahwa ia sebenarnya juga mencintai Gilbert. Tapi ia takut Gilbert sudah tidak lagi mencintainya setelah penolakan Anne dua tahun sebelumnya.

The rose of love made the blossom of friendship pale and scentless by contrast.

Di taman itu, Gilbert sekali lagi menyatakan perasaannya pada Anne, dan Anne bersedia menikahi Gilbert. Gilbert mengakui bahwa ia sembuh dari sakitnya karena mendengar kabar bahwa Anne sebenarnya tidak bertunangan dengan Roy dan memutuskan untuk mencoba lagi melamar Anne.

There was nobody else – there never could be anybody else for me but you. I’ve loved you ever since that day you broke your slate over my head in school.

Saat itu Anne menerima lamaran Gilbert namun Gilbert yang bercita-cita menjadi dokter harus melanjutkan pendidikan selama tiga tahun lagi sehingga Anne harus menunggu.

My thoughts

Buku ini berakhir dengan Anne dan Gilbert berjalan kembali dari hutan, bersama-sama, setelah berjanji untuk menikah. Anne akan menunggu Gilbert menyelesaikan sekolah kedokterannya selama tiga tahun sembari mengajar lagi. Sepertinya gelar sarjana Anne memudahkannya untuk mendapat jabatan mengajar yang lebih baik karena ia sudah ditawari menjadi kepala sekolah di kota lain.

Ada beberapa konsep yang menurutku menarik dan menunjukkan perbedaan zaman dan budaya pada masa Anne dan yang aku alami sekarang.

Kuliah

Sejujurnya aku cukup kaget juga loh soal Anne tiba-tiba bercita-cita ingin kuliah karena wow ternyata di zaman itu cewek sudah bisa kuliah dengan mudah ya? Aku yakin aslinya nggak semudah itu, karena bahkan di rumah saja, tetangga Anne ada yang bilang “menurutku cewek nggak perlu pendidikan tinggi-tinggi” bahkan di kos-kosan dia di Kingsport ada yang bilang “untuk apa kamu belajar matematika, memangnya kamu bisa masak?” Aku yakin bahwa omongan-omongan nggak enak itu pasti ada, tapi aku seneng banget di sini membaca Anne sangat rajin belajar, berusaha mendapat beasiswa, lalu kuliah dan didukung penuh oleh keluarganya. Dan sebenarnya omongan tetangga itu ada benarnya, sih, karena pada akhirnya ada beberapa lulusan sarjana perempuan yang setelah menikah menjadi ibu rumah tangga. Apakah aku berpendapat mereka seharusnya nggak kuliah aja? Enggak juga, tapi aku ngerti kenapa orang-orang yang lebih tua akan berpendapat seperti itu. Aku sih salut banget sama keinginan Anne dan teman-temannya untuk terus belajar dan kegigihan mereka selama sekolah.

Callers/calling

Calling secara harfiah bisa diartikan memanggil, tapi di masa itu (buku ini berlatar tahun 1910an) ini sering berarti bertamu.

You, Phil, as all Redmond knows, entertain callers almost every evening. Now, … we can’t do that. We have decided that we shall be at home to our friends on Friday evenings only.

Phil, yang terkenal sering mendapat tamu, ketika tinggal dengan Anne dan Priscilla, harus mengikuti aturan mereka yaitu hanya menerima tamu pada Jumat malam saja. Calling ini sering berarti laki-laki bertamu ke rumah perempuan untuk pedekate, tapi tidak selalu begitu, sih, kadang-kadang ada juga yang datang sebagai teman. Tapi di buku ini juga diceritakan bahwa Gilbert sering bertamu ke kediaman Anne lalu digosipin. Dan kalau baca buku-buku lain yang berlatar di zaman yang sama, istilah calling ini memang sering dipakai untuk bertamu bahkan misalnya hanya ngobrol dengan tetangga.

Bertunangan

Di sekitar usia 20 tahun, banyak teman-teman Anne yang bertunangan dan kemudian menikah. Zaman sekarang saja, sebenarnya budaya bertunangan juga berbeda-beda kan, antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya. Tapi setahu aku, biasanya orang-orang bertunangan setelah pacaran beberapa lama. Tunangan itu hanyalah semacam pengikat bahwa dua orang ini akan menikah dalam waktu dekat. Sebenarnya apa bedanya dengan pacaran? Aku juga nggak paham sih. Setahu aku orang tua aku nggak punya upacara pertunangan. Sekarang ada cukup banyak orang di sekitar aku yang upacara pertunangannya sudah kayak pernikahan kecil. Asyik sih, aku sih seneng-seneng saja kalau diundang. Tapi ya aku sendiri juga masih kurang paham apa fungsinya. Setahu aku, belum terikat secara hukum, kan? Jadi sepertinya cuma upacara budaya saja. Di buku ini sama sih, pertunangan dilakukan kalau salah satu pasangan ingin menikahi yang lain, lalu melamar, lalu mereka bertunangan.

Aku yakin kalau pasangannya tidak pacaran atau saling mengenal terlebih dulu, upacara pertunangan ini pasti lebih penting karena benar-benar merupakan suatu kejadian penting yaitu ajakan untuk menikah. Tapi untuk pasangan yang sudah pacaran bertahun-tahun, sepertinya lamaran itu hanya formalitas saja untuk semakin memperkuat hubungan mereka sebelum terikat secara hukum dan mengumumkan pada seluruh keluarga bahwa mereka sebentar lagi akan menikah. Setahu aku orang-orang yang bertunangan dengan niat akan menikah akan menikah paling lambat setelah satu tahun dari pertunangan mereka.


Seperti buku-buku sebelumnya, buku ini juga sangat menyenangkan untuk dibaca. Buku yang tidak terlalu tebal ini berisi kehidupan Anne selama empat tahun dia kuliah sehingga ada banyak hal yang terjadi, tapi sering juga melewati beberapa bulan sekaligus dalam pergantian bab.

Setelah buku ini, Anne dan Gilbert sudah bertunangan dan Anne akan menunggu Gilbert menyelesaikan sekolah kedokterannya selama tiga tahun. Menurutku buku Anne of the Island ini salah satu buku dalam seri ini yang paling menyenangkan karena di sini kita bisa melihat kehidupan Anne selama kuliah, bertemu teman-teman baru, melihat beberapa temannya bertunangan dan menikah, bertemu teman-teman lama, dan lain-lain.

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s