Berkeliling Asia Tengah melewati Garis Batas

cover garis batas

Judul Buku: Garis Batas

Penulis: Agustinus Wibowo

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun: 2011

Dibaca: April-Mei 2021

Fantasi orang-orang yang hidup di seberang garis batas. Fantasi yang sama membawa Agustinus Wibowo bertualang ke negeri-negeri Asia Tengah yang misterius. Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan, Turkmenistan. Negeri-negeri yang namanya semua berakhiran “stan”. Perjalanan ini bukan hanya mengajak Anda mendaki gunung salju, menapaki padang rumput, menyerap kemegahan khazanah tradisi dan kemilau peradaban Jalan Sutra, ataupun bernostalgia dengan simbol-simbol komunisme Uni Soviet, tetapi juga menguak misteri tentang takdir manusia yang terpisah dalam kotak-kotak garis batas.

Perjalanan kolosal seumur hidup dari Beijing, Tibet, Nepal, India, Mongolia, Pakistan, Afghanistan, Tajikistan, Kirgizstan, Uzbekistan, Kazakstan, Turkmenistan, dan Iran.

Pertama kali aku menemukan blog Agustinus Wibowo sudah lamaaa sekali dan itu tidak sengaja, mungkin saat aku sedang mencari tahu soal negara-negara Asia Tengah yang sungguh penuh misteri bagiku. Jadi ingat, dulu aku sering membaca blog-blog perjalanan, bahkan sebenarnya sekarang aku punya draf tulisan perjalanan yang belum aku selesaikan. Sudah lama sekali sebenarnya aku ingin membaca buku-buku karya Agustinus Wibowo karena aku penasaran dengan negara-negara yang ia kunjungi. Judul ulasan ini juga pasti pasaran banget, deh, karena aku lihat banyak sekali ulasan buku ini dan menggunakan kata-kata “melewati garis batas” atau “menembus garis batas”, hahaha memang gampang disambung-sambungkan, sih.

Garis Batas adalah buku kedua Agustinus Wibowo setelah Selimut Debu yang berisi perjalanannya di Afghanistan. Garis Batas langsung melanjutkan cerita dari buku selanjutnya, yaitu dengan memasuki Asia Tengah dari perbatasan darat dengan Afghanistan. Judul Garis Batas diambil karena dalam buku ini, Agustinus sering kali merenungkan kehidupan manusia yang terpisah-pisah oleh garis batas, salah satunya adalah batas negara. Garis batas sungguh terasa ketika kita akan pindah dari satu negara ke negara lainnya. Melewati petugas imigrasi, diperiksa paspor dan visa, mungkin diminta pungutan liar, lalu memasuki wilayah tempat berlakunya hukum dan mata uang yang berbeda.

Negara yang pertama dikunjungi Agustinus adalah Tajikistan, kemudian Kirgizstan, kemudian Kazakhstan, Uzbekistan, dan terakhir Turkmenistan. Semua negara tersebut merupakan pecahan dari Uni Soviet dan memiliki karakteristik yang sangat berbeda satu sama lain, dengan norma masyarakat yang terkadang berbeda jauh. Ada negara yang sangat ingin memisahkan diri dengan sejarah Sovietnya sehingga berusaha keras menghilangkan bukti-bukti konkret sejarah tersebut. Mereka menghancurkan patung Soviet, menamakan ulang jalan dengan nama pahlawan-pahlawan nasional, dan mengesampingkan warga keturunan Rusia sehingga mereka sekarang menjadi warga kelas dua. Ada juga yang masih mengenang romansa masa lalu di bawah Soviet ketika hidup mereka lebih mudah. Setiap warga memiliki pekerjaan masing-masing dan diberikan makanan dari Pusat. Mereka hampir tidak pernah merasakan kekurangan. Ada lagi negara yang menutup diri rapat-rapat demi mewujudkan Abad Emas versi mereka sendiri.

Sejarah Wilayah Asia Tengah

Dilihat dari sudut pandangku sebagai warga Indonesia yang juga merupakan negara bekas jajahan, wilayah Asia Tengah sangat menarik karena mereka mengalami masa lalu yang sangat berbeda. Sebelumnya aku pernah mengulas buku Another Man’s War yang menurutku memberikan kita pandangan pada akibat buruk kolonialisme yang berkepanjangan. Bagaimana cara negara-negara penjajah memecah benua seenak mereka demi politik di Eropa tanpa memerhatikan warga yang tinggal di tempat tersebut. Hal ini kemudian menghasilkan konflik berkepanjangan hingga masa kini. Bukan hanya wilayah, pemerintah penjajah juga dapat membuat pemisahan suku versi pemerintah yang sebenarnya berbeda dengan cara warga asli memandang diri mereka sendiri namun hal ini tetap berpengaruh pada kehidupan sehari-hari karena dilegitimasi oleh pemerintah (Hutu dan Tutsi di Rwanda).

Jujur awal-awal aku nyari sejarah negara-negara Asia Tengah dan bagaimana mereka bisa menjadi jajahan Rusia itu cukup membingungkan. Salahnya adalah aku malah pakai keyword USSR History dan isinya malah sejarah Uni Soviet dari awal dia terbentuk sampai runtuhnya dan fokusnya ya di ibukota Uni Soviet di Eropa. Setelah beberapa lama membaca dan kebingungan, baru aku kepikiran untuk mencari ekspansi Soviet di Asia Tengah. Baru deh ketemu! Hahaha bukannya dari awal ya.

Rusia memulai penaklukan wilayah Asia Tengah di sekitar tahun 1830-an. Tujuannya nggak jauh beda dengan ekspansi negara-negara Eropa lain, yaitu untuk mencari bahan mentah, mencari pasar untuk produksi mereka, dan tentu saja dijustifikasi dengan alasan untuk civilizing warga lokal. Pada akhir abad ke-19, Rusia sudah menguasai hampir seluruh wilayah Asia Tengah sekarang. Di bawah pemerintahan Rusia, wilayah Asia Tengah dibagi-bagi ke dalam ke-Gubernur Jenderal-an Turkistan . Artikel ini membahas sejarah Asia Tengah dan menurutku cukup menarik jika ingin tahu sejarah penaklukan wilayah tersebut oleh Rusia.

Negara-negara Asia Tengah mengalami masa lalu yang berbeda dengan kita di Indonesia. Mereka tidak dipisah-pisah sebelum dijajah, tetapi merupakan bagian dari satu kesatuan besar, yaitu Uni Soviet. Jadi pada tahun 1991 ketika Uni Soviet runtuh, kemerdekaan yang mereka dapatkan itu bisa dibilang mengagetkan. Wilayah kekuasaan Rusia di Asia Tengah memang dari dulu sudah disebut Turkistan yang berarti tanahnya orang-orang Turki. Btw stan memang artinya tanah, jadi Kazakhstan itu tanah orang-orang Kazakh, Kirgizstan artinya tanah orang-orang Kirgiz, dan seterusnya. Nggak berbeda dengan land dalam Scotland, Ireland, dan Thailand. Rusia tujuannya membagi-bagi wilayah berdasarkan suku adalah supaya warganya hidup di tanah masing-masing. Tapi yang namanya manusia yang bisa berpindah-pindah (apalagi Asia Tengah cukup lama masyarakatnya nomad) tentu nggak semuanya tetap di wilayah masing-masing. Apalagi belum tentu semua garis batasnya sesuai dengan lokasi asli warganya.

Kelahiran beragam negara-negara Stan tersebut disebabkan oleh kelakuan Rusia yang memecah-mecah wilayah sesuka hati mereka. Dahulunya wilayah ini disebut Turkistan dan merupakan salah satu wilayah penting dalam perdagangan internasional dengan adanya Jalur Sutra. Mungkin kita pernah mendengar kota-kota Bukhara atau Samarkand, itu adalah beberapa kota yang terletak di Turkistan ini dan menghasilkan banyak cendikiawan terkenal pada masanya. Nah, Rusia memberlakukan kebijakan divide et impera yaitu memecah belah dan menaklukkan. Mereka memecah-mecah wilayah Turkistan supaya lebih mudah ditaklukkan.

Dikirimlah para ahli etnografi dari Moskow ke Asia Tengah, untuk menemukan “perbedaan” bangsa-bangsa. Eureka! Lahirlah definisi bangsa-bangsa yang baru. Ada kaum nomad Kirgiz dan Kazakh. Ada pengembara padang pasir Turkmen. Bangsa menetap yang berbahasa Turki didefinisikan sebagai Uzbek, yang berbicara bahasa Persia menjadi Tajik.

Nama-nama bangsa itu memang sudah ada sebelumnya, tetapi kini garis batas pembeda bangsa-bangsa resmi dikukuhkan. Sedangkan bangsa-bangsa yang sudah ada sebelumnya tinggal dihapus.

Setelah bangsa-bangsa ditentukan, sekarang dibuat negara-negara bagi mereka … Sebagai negara bagian di bawah Uni Soviet, semuanya berlabel “Republik Sosialis Soviet”, tunduk di bawah kendali Moskow.

Tajikistan dan negara “Stan” lainnya, bukan dilahirkan Stalin untuk merdeka dan berdaulat. Tajikistan tak punya banyak sumber daya mineral, tetapi punya dam-dam raksasa pembangkit listrk yang memasok energi berkali-kali lipat dari kebutuhan dalam negerinya… Negeri ini terjepit di tengah daratan Asia, terkurung gunung, dan dirundung kemiskinan karena struktur ekonomi yang rapuh.

Kemerdekaan negara-negara ini terjadi dengan tiba-tiba dan bahkan bisa dibilang tidak diminta, jadi banyak yang tidak siap untuk merdeka. Bukan salah mereka juga, kalau seluruh wilayah ini dibangun oleh Soviet sebagai bagian dari satu negara besar. Misalnya rel kereta api, penyaluran air, gas, dan lain-lain itu saling menyambung antarnegara lalu begitu mereka merdeka muncullah garis batas negara yang konkret dan menjadi pembatas secara geografis, menyulitkan kehidupan warga yang sebelumnya bisa bergerak dan sumber daya yang sebelumnya bisa menyebar dengan mudah.

Identitas dan Garis Batas

Buku ini menunjukkan bagaimana Garis Batas dapat memecah belah manusia dan mempersulit kehidupan. Tidak hanya kewarganegaraan, tetapi juga suku, bangsa, agama, dan lain-lain. Garis batas juga membentuk identitas kita, sejarah mana yang kita pelajari dan percayai, dan siapa yang kita anggap saudara atau musuh.

Di Kirgizstan, Agustinus menemui orang-orang Dungan, yaitu bangsa minoritas yang leluhurnya berasal dari Tiongkok. Agustinus merasa orang-orang Dungan dan Kirgiz terlihat sama saja tetapi mereka tentu bisa melihat perbedaan di antara satu sama lain. Seorang Dungan berkata, “nenek moyang kami berasal dari Tiongkok. Bukan Kirgizstan. Kami di sini hanyalah pendatang.” Meskipun sudah menetap di Kirgizstan, mereka masih merasa sebagai pendatang. Dan hal ini memang diperkukuh oleh negara yang tidak memberikan kartu identitas dengan mudah kepada bangsa-bangsa minoritas. Jangankan ke luar negeri, bepergian lebih dari radius 60 kilometer saja mereka tidak bisa. Mereka memang bisa dibilang cukup tertindas di Kirgizstan, sulit melakukan mobilitas sosial dengan keadaan mereka yang seperti ini. Meskipun begitu, Agustinus mendapati bahwa mereka tidak memiliki hubungan yang simpatis dengan bangsa Uyghur karena ternyata sejak ratusan tahun yang lalu mereka memang sering terlibat pertempuran demi kekuasaan sehingga hingga buku ini ditulis mereka masih memiliki pandangan negatif terhadap yang lain (aku kurang tahu bagaimana sekarang, karena buku ini sudah hampir 10 tahun umurnya).

Pertemuan dengan berbagai bangsa minoritas di Asia Tengah membuat Agustinus berefleksi terhadap pengalamannya sendiri yang tumbuh sebagai minoritas Tionghoa di Indonesia pada masa Suharto berkuasa. Ia sering menerima ejekan dari bocah-bocah di gang dan guru di sekolah yang mempertanyakan nasionalismenya. Masalahnya, ketika ia pergi ke Tiongkok di sana ia juga dianggap sebagai orang asing. Nasionalisme kemudian menjadi kata angker bagi Agustinus ketika ia tumbuh dewasa. Ia juga merasa bahwa asimilasi adalah sesuatu yang menyeramkan karena apabila digunakan dengan maksud yang sama sebagaimana Sun Yat-sen, asimilasi bertujuan untuk meleburkan semua manusia menjadi sama dengan bangsa mayoritas. Padahal seharusnya di Indonesia kita merayakan perbedaan, bukan?

Sejarah dan bahasa sebagai identitas bersama

Bangsa mana yang mau negaranya disebut sebagai negara buatan? Seperti halnya orang Indonesia mana yang rela berterima kasih kepada Belanda yang telah mempersatukan dari Sabang sampai Merauke?

Apakah ini nasib negara-negara terjajah? Tanah dibagi-bagi, harkat kemanusiaan direndahkan, hak-hak dirampas, nasib ditentukan orang luar, lalu ketika merdeka justru berbangga untuk kotak-kotak dan batas-batas bikinan tangan asing itu? Bunuh-bunuhan untuk konsep peninggalan kolonial itu?

“Sejarah itu menjadi memori kolektif, mempersatukan mereka yang percaya dan bangga olehnya. Karena simbol-simbol “besar” ini penting untuk eksistensi mereka.

Dalam buku ini sering dibahas juga bahwa negara-negara Asia Tengah ini, kan, sebenarnya buatan Rusia, mereka yang menetapkan batas dan lain-lain. Ya tidak jauh berbeda dengan Indonesia yang wilayahnya adalah bekas jajahan Belanda. Tapi kenapa warga lokal memiliki perasaan nasionalis? Kenapa merasa bangga pada peninggalan penjajah?

Memang cukup depressing ya gak, tapi sebenarnya tidak salah juga, kan, kita hidup sebagai bagian dari masyarakat dan kita membutuhkan sesuatu untuk “digenggam” sebagai identitas bersama. Kalau tidak ada identitas bersama, apa yang membuat kita merasa sebagai bagian dari masyarakat yang sama? Ironis juga karena bagian dari identitas itu adalah simbol dan konsep peninggalan kolonial, tetapi itu kan memang bagian dari sejarah. Mau bagaimana lagi? Aku bukannya tidak setuju dengan kata-kata Agustinus dalam buku ini, tetapi ya memang kenyataannya seperti itu kan.

Sogokan di perbatasan

Sesuatu yang menarik sekali (meskipun sayangnya tidak mengejutkan) adalah seberapa seringnya Agustinus diminta sogokan oleh petugas imigrasi. Tidak hanya di perbatasan negara, ia juga pernah dihadang petugas di tengah jalan untuk diperiksa surat-suratnya. Mereka akan mencari-cari kesalahan lalu memeras orang yang bersangkutan. Bukan hanya wisatawan saja, bahkan para sopir truk yang pasti sering melintas juga menjadi korban sogokan di imigrasi. Tapi kalau dipikir-pikir masuk akal, nggak, sih? Ini mirip dengan sopir angkot yang kalau lewat “pak ogah” pasti selalu ngasih uang. Dulu aku setiap hari naik angkot dan jadinya sadar kalau mereka selalu ngasih uang sementara kalau mobil pribadi kan banyak yang tidak ngasih uang. Hipotesisku, sih, ya, sopir-sopir ini lebih sering melintas dan lama-lama mukanya akan dikenal sehingga mau tidak mau mereka harus menurut. Apalagi sopir perbatasan Tajikistan yang mau tidak mau harus melewati batas antarnegara. Mereka bahkan diperas lebih banyak daripada wisatawan yang lewat!

Sebenarnya aku bisa relate, sih. Di sini kan Agustinus ke mana-mana lewat perbatasan darat, naik bus atau menumpang truk. Aku juga pernah melewati perbatasan darat antarnegara dan di perbatasan-perbatasan yang mungkin kurang “terjamah”,  itu pasti dimintain uang sogokan. Beberapa tempat yang dilewati Agustinus minta sogokannya masuk ke ruangan tertutup dulu, tetapi aku malah pernah langsung di kios imigrasinya. Waktu itu di perbatasan Vietnam-Laos di atas gunung dan isinya kebanyakan warga lokal, cuma bus aku saja yang banyak turisnya. Di situ kita langsung saja ngasih uang ke petugas imigrasi setelah paspornya dicap. Tidak semua perbatasan darat seperti ini, sih, tapi aku sangat bisa membayangkan kejadian seperti ini, apalagi di Asia Tengah yang mungkin sepi turis.

Makanan orang miskin

Satu hal lain yang aku sangat suka dari buku ini adalah kemampuan Agustinus dalam menggambarkan situasi. Dia pernah menumpang menginap di rumah warga dan disuguhi makanan yang cukup mengenaskan.

Santap malam, dalam kultur Asia Tengah, biasanya selalu banyak dan mengenyangkan. Tetapi di atas kain tikar keluarga ini malah tertumpah segunung permen, remah-remah roti yang sudah mengeras, gorengan tepung borsok yang sudah mengerut dan hilang daya tariknya, patahan cokelat, ceceran kacang tanah, wafer yang sudah melempem, beberapa apel dan jeruk busuk. Campur aduk seperti sampah.

Gambaran di atas cukup membuatku berpikir cukup lama soal kondisi di sana. Hidup kekurangan dengan makanan yang sangat seadanya. Mungkin kalau terlahir di salah satu kota terpencil di sana sulit melihat kesempatan untuk mobilitas sosial, bingung mau hidup bagaimana lagi. Memang ada bantuan dari LSM asing tetapi biasanya manfaatnya tidak berkepanjangan jadi ya kehidupan warganya begitu-begitu saja.

Dari Kazakhstan yang mahal sekali hingga Turkmenistan yang gratis

Kazakhstan adalah negara yang wilayahnya terbesar di Asia Tengah. Mereka juga mungkin negara yang saat ini paling kaya. Sumber kekayaannya tidak lain tidak bukan adalah minyak bumi (dan bahan tambang lain). Mereka juga yang paling mengadopsi sistem ekonomi pasar, mungkin untuk semakin bergabung dengan pasar dunia tapi juga untuk menjauhkan diri dari sejarah Soviet mereka. Kazakhstan bersama Turkmenistan telah masuk ke dalam kategori “negara berpenghasilan menengah-atas” namun kedua negara ini mengalami kenyataan yang sangat berbeda.

Kazakhstan yang sekarang tergolong negara menengah atas menjadi sangat mahal bagi sebagian besar penduduknya. Agustinus menemukan buah-buahan lokal saja harganya mahal sekali. Biaya hidup sangat mahal sehingga masyarakat kelas pekerja harus tinggal di tempat yang sempit dan padat untuk menghemat biaya. Di sisi lain, terlihat juga masyarakat kelas atas yang semakin nyata. Mereka berkeliaran menggunakan jaket bulu hewan asli dan baju dari sutra. Mungkin mereka adalah ekspat dan pegawai di industri minyak yang membuat kaya Kazakhstan.

Kebalikan dari Kazakhstan yang membuka ekonominya, Turkmenistan malah menutup diri sampai-sampai dijuluki Korea Utaranya Asia Tengah. Seperti ke Korea Utara, kita harus bergabung dengan kelompok wisata hanya untuk masuk ke Turkmenistan. Selain itu orang asing yang ada di sana biasanya ya ekspat-ekspat minyak. Orang-orang asing yang berkunjung berpendapat bahwa Ashgabat, Turkmenistan, adalah salah satu kota paling aneh di dunia. Presiden mereka memang sepertinya cukup narsis dan membangun patung dia sendiri di mana-mana. Ia juga membuat kitab yang “diimani” oleh seluruh warga Turkmenistan. Presidennya juga lumayan terobsesi dengan Guinness World Record dan hampir semua bangunan di Ashgabat dibuat dari marmer putih supaya masuk rekor dunia. Tapi ya jadinya cukup aneh karena kebanyakan bangunan itu kosong, warga tidak banyak yang hidup di ibukota. Kalau penasaran dengan keunikan Turkmenistan lainnya, bisa lihat video John Oliver soal Presiden Turkmenistan. Disebutkan bahwa ia mengganti nama-nama bulan menjadi nama anggota keluarganya, dan lain-lain. Kocak sih karena sungguh sangat wtf.

Meskipun sudah sama-sama berpenghasilan menengah-atas, hidup di Turkmenistan sangat berbeda dengan Kazakhstan. Di sana segalanya sangat murah dan pemerintah berusaha untuk membuat semua kebutuhan primer warga menjadi gratis. Memang, sih, mereka akan susah kalau ingin membeli barang luar negeri atau ingin bepergian ke luar negeri, tapi sepertinya hampir semua kebutuhan warga terpenuhi. Naik bus kota yang sudah modern hanya sekitar 20 rupiah. Gaji masyarakat memang kecil tetapi menurut mereka, mereka tidak butuh uang untuk hidup. Air listrik, gas, layanan kesehatan, semua gratis. Tapi tetap saja, hidup di tempat seperti ini harus berhati-hati karena selalu ada mata-mata yang mengawasi.

Tentu saja hidup di Turkmenistan tidak semuanya bahagia. Memang mencurigakan ya, kalau kotanya dibangun sangat megah tapi sebenarnya isinya kosong. Ternyata di negara ini juga banyak pengangguran. Masyarakat yang berasal dari suku minoritas sulit mendapat pekerjaan, bahkan kalau bukan suku minoritas pun, mereka harus bekerja di daerah asal masing-masing. Sehingga kemudian orang-orang yang merantau hanya bisa menjadi pedagang di pasar.


Membaca buku perjalanan ini aku juga jadi kagum pada keberanian Agustinus Wibowo dalam perjalanannya. Mungkin karena aku tidak membaca buku pertamanya lebih dulu, tapi ada beberapa yang membuatku bingung di sini. Dia bisa bahasa apa saja, sih? Kok bisa mengobrol santai dengan orang-orang pedalaman Asia Tengah? Dari yang kubaca, sih, sepertinya ia bisa berbahasa Afghanistan makanya ia bisa memahami bahasa Tajik yang akarnya sama-sama bahasa Persia. Tapi selain itu, apa lagi? Sepertinya bisa bahasa Rusia juga tapi aku tidak yakin.

Selain itu Agustinus sepanjang perjalanan berusaha untuk mengeluarkan biaya yang sesedikit mungkin. Makanya ia pernah menumpang truk barang dan sering menginap di rumah warga. Pernah juga menginap di stasiun kereta sampai-sampai dibangunkan oleh satpam. Aku nggak akan berani seperti itu, hahaha.

Sesuatu yang aku sayangkan dari membaca buku ini adalah tidak adanya foto-foto padahal sepertinya Agustinus Wibowo itu lebih ke fotografer daripada penulis. Setidaknya itu sih, yang kutangkap dari blog dia. Di buku ini dia banyak menggambarkan suasana tempat-tempat yang ia kunjungi, lembah-lembah yang indah, kota-kota besar yang aneh, tapi kan aku susah membayangkannya. Tapi ternyata waktu aku cek blognya lagi, seluruh isi buku dia juga ada di blognya, rapi dan dinomori! Dilengkapi dengan foto-foto juga! Jadi sepertinya kalau aku ingin baca buku dia lagi, yang pertama atau yang ketiga, aku akan baca dari blognya saja, lengkap sekali. Kalau teman-teman penasaran dengan isi buku ini juga aku sarankan coba membaca dari blognya Agustinus Wibowo karena di sana malah dilengkapi foto-foto.

Secara umum aku mendapat pengetahuan baru dari buku ini. Ternyata negara-negara Asia Tengah kondisinya berbeda sekali, ya, dengan di Indonesia; ternyata satu dengan yang lain juga kondisinya berbeda-beda sekali. Semuanya menarik sekali. Ditambah renungan Agustinus soal identitas dan perasaan nasionalismenya sendiri yang ia sadari ketika bepergian keliling Asia, buku ini adalah bacaan yang bagus.

7 Comments

  1. penulis favorit emang y kak, tulisan – tulisannya bener2 seolah2 kita juga ikut ke sana, sampe2 googling berkali2 saat baca buku, saking penasarannya tempat / wujud kota yang didatangi kaya apa

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s