Buku yang Kubaca di Agustus 2021

Bulan Agustus kemarin sayangnya aku nggak membaca sebanyak di Bulan Juli. Mungkin karena sudah nggak digital decluttering dan jadi sering main hape lagi? Iya memang karena itu sih hehehe. Bulan kemarin aku menyelesaikan tiga buku, yaitu Don’t Look Back, yaitu sebuah novel YA thriller, Becoming, yaitu memoar karya Michelle Obama, dan Kabut Negeri si Dali yaitu kumpulan cerpen.

Don’t Look Back

Don’t Look Back karya Jennifer L. Armentrout adalah sebuah novel Young Adult bertema utama thriller, tapi ada juga unsur romance, keluarga, dan drama pertemanan. Bulan lalu aku membaca Burying Water yang tokoh utamanya mengalami amnesia, nah di buku ini tokoh utamanya juga amnesia hahaha. Kayanya waktu itu aku sempat lagi iseng cari rekomendasi buku-buku amnesia. Buku ini menceritakan tentang Samantha yang bangun di rumah sakit dan tidak ingat apa-apa. Untungnya dia langsung dijemput sama orang tuanya yang memang sedang mencari dia, sementara kalau di Burying Water nggak ada yang mengklaim kehilangan anggota keluarga. Samantha pulang dan berusaha menjalankan kehidupannya seperti biasa.

Ada beberapa hal yang aku kurang suka dari Samantha. Dia jelas-jelas mengalami amnesia dan pastinya trauma, tapi dia memaksakan diri untuk masuk ke sekolah secepatnya. Mungkin dia nggak suka sama keadaan di rumah dan pingin segera menjalani hidup seperti biasa, ya, jadi bisa saja. Satu hal penting juga adalah Samantha kaget waktu menyadari bahwa dia adalah sosok yang sangat bitchy lol. Jadi dia bisa dibilang mean girls, lah, sama teman-teman satu gengnya. Kebetulan dia memang orang kaya dan dikelilingi oleh anak-anak orang kaya lainnya dan kehidupannya adalah hura-hura, dia juga punya pacar anak orang kaya yang akan mewarisi perusahaan bapaknya. Jadi mereka berdua hidupnya sudah terjamin, lah.

Unsur thriller dalam buku ini utamanya dalah dari halusinasi Samantha. Ketika berusaha melanjutkan hidupnya, Samantha sendiri mengalami banyak halusinasi. Dia melihat bayangan-bayangan di kamarnya, merasa ada yang memberi dia kertas, tiba-tiba flashback, dan lain-lain. Selain itu, kita juga tahu bahwa pada malam hilangnya Samantha, dia pergi berdua dengan sahabatnya Cassie. Tapi Cassie masih hilang sampai berhari-hari kemudian. Orang-orang menuduh Samantha yang tidak-tidak karena dia yang terakhir diketahui bersama Cassie. Semakin lama Samantha juga dihantui ingatannya yang kurang lengkap.

Cerita dalam buku ini berdasarkan pada sudut pandang Samantha dan dia bisa dibilang unreliable narrator karena kita nggak tahu apakah yang dia alami itu adalah halusinasi atau benar-benar terjadi. Apakah dia habis pingsan atau tidak. Ini yang membuat buku ini cukup menarik. Kisah thriller-nya juga benar-benar bikin aku ingin lanjut baca terus. Tapi sayangnya tokoh-tokoh dalam buku ini kurang “dalam” gitu karena yang jahat ya jahat aja, yang baik ya baik aja, jadi menyebalkan, kaya cerita anak-anak banget. Aku juga kesal banget karena Samantha ini kayanya males banget dan nggak suka banget pergi ke psikolog, padahal jelas-jelas dia habis trauma, kehilangan ingatan, dan mengalami halusinasi! Jelas-jelas dia butuh ke psikolog ngga sih? Padahal orang tuanya pasti bisa bayar juga, tapi tetap saja dia menganggap dirinya gila dan heboh sendiri. Ini sempat bikin aku pingin berhenti baca saking kesalnya, tapi sayangnya (atau untungnya) ceritanya menarik banget hahaha jadi aku lanjut sampai habis.

Di akhirannya ada plot twist yang nggak ketebak sama aku. Aku benar-benar nggak berpikir ke arah situ, jadi cukup kaget aja sih. Not bad, tapi not the best lah.

Becoming

Becoming adalah autobiografi karya Michelle Obama, mantan ibu negara Amerika Serikat. Buku ini ditulis nggak lama setelah Barack Obama selesai menjabat, jadi berisi mulai dari masa kecil Michelle hingga setelah selesai menjadi ibu negara. Meskipun di tahun ini aku sudah dua kali membaca memoar dan autobiografi, aku sebenernya jarang banget baca buku-buku seperti ini karena takut merasa diceramahi. Tapi aku memang sudah lama kagum dengan sosok Michelle Obama dan aku suka melihat cara dia berkomunikasi saat tampil di acara-acara informal, jadi aku memutuskan untuk baca buku ini, untuk hiburan, cari ilmu, dan siapa tahu bisa memotivasi diriku juga kan.

Sebelum nulis mini review ini aku jadi mencari tahu apa sih bedanya antara memoar dan autobiografi. Dari yang kubaca, sepertinya memoar itu lebih spesifik ke satu periode kehidupan seseorang, sementara autobiografi ceritanya lebih luas, dari masa kecil sampai sekarang. Nah jadinya aku menganggap buku ini autobiografi karena benar-benar bercerita sejak Michelle masih kecil, kehidupan kuliahnya, kehidupan bekerja di firma hukum, kehidupan setelah menikah dengan Barack Obama, kehidupan selama jadi ibu negara, dan setelah Barack Obama selesai menjabat.

Dalam buku ini banyak sekali pengalaman Michelle yang menurutku cukup inspiratif. Dia berasal dari keluarga kelas menengah yang tinggal di tengah kota Chicago (saat itu orang-orang kaya malah pindah ke pinggiran kota) dan bisa menjadi ibu negara. Keluarganya sangat mementingkan pendidikan Michelle dan kakaknya sehingga mereka sangat didukung untuk kuliah dan mendapat pendidikan sebaik mungkin. Makanya kemudian Michelle sering menggalakkan program pendidikan untuk semua orang karena dia sadar bahwa dia sangat terbantu oleh pendidikan.

Buku ini bagus banget, sangat inspiratif, ceritanya juga nggak membosankan dan menggurui. Tapi memang sih di bagian awal-awal waktu dia cerita soal kehidupannya sebagai anak-anak itu aku agak bosan tapi setelah dia kuliah dan menikah itu asyik banget, menurutku buku ini bisa menjadi sumber semangat buat banyak orang.

Kabut Negeri si Dali

Kabut Negeri si Dali adalah kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh A. A. Navis. Cerita-cerita ini ditulis antara tahun 1990-2000 kalau tidak salah, tapi berlatar belakang masa sekitar kemerdekaan Indonesia. Ada yang ketika Jepang sedang mengambil alih kekuasaan dari Belanda, dan ada juga ketika Indonesia sedang mempertahankan wilayahnya setelah memproklamirkan kemerdekaan. Aku membaca buku ini karena bagian dari Klub Buku BSK. Salahnya aku adalah aku ngira ini bacaan untuk bulan Agustus, jadi sudah dibaca duluan padahal sebenarnya untuk September hahaha. Intinya sih kumcer ini memang menceritakan kehidupan pada masa peperangan, jadi nggak penuh kebahagiaan. Banyak bagian dari cerita yang bikin aku sedih dan marah karena kondisi kehidupan orang-orangnya. Seperti kenyataan bahwa perempuan pada saat itu nggak punya banyak opsi dalam hidupnya, jadi tentara itu nggak enak, dan semakin mengisi sentimen pribadi aku terhadap militer aja sih karena kelakuannya ya nggak baik juga di sini. Menarik untuk dibaca kalau ingin tahu kehidupan Indonesia pada masa-masa sekitar kemerdekaan.


Begitulah ketiga buku yang aku baca di bulan Agustus kemarin. Aku sudah nggak melakukan digital decluttering lagi, jadi bener-bener berkurang ya jumlahnya. Aku juga punya kesibukan lain yang bikin makin sulit baca untuk hura-hura huh sedihnya. Semoga ulasanku bermanfaat ya.

6 Comments

  1. Pas banget nih lagi nyari buku thriller, bisa jadi pilihan untuk bacaan bulan2 ini. Pas baca penulisnya kok kayak engga asing ternyata sering nulis buku fantasy dan menarik juga nih nulis thriller. Dari mba ini dapet rating berapa nih? Aku penasaran juga

    Like

    1. Iya benerr si Jennifer L Armentrout suka nulis fantasi dan romance juga. Udah banyak banget buku dia ternyata. Seingat ku aku ngasih 3/5. Si tokoh-tokohnya banyak yang bikin kesel sampe sampe aku pingin berhenti tapi thrillernya asik banget jadi aku lanjutin aja. Mungkin juga karena tokohnya anak-anak SMA jadi agak bingung liat tingkah lakunya.

      Like

  2. Wah, ada becoming disini. Aku baru baca beberapa halaman tapi belom lanjut lagi hehe. Makasih untuk ulasannya kak. Baru tau memoar dan autobiografi itu ada bedanya. Selama ini nggak pernah kepikiran untuk mempertanyakan apa perbedaannya.

    Like

    1. Makasih juga udah baca kak!! Aku juga baru tau tuh hehehe tapi banyak juga yang bilang buku Becoming itu adalah memoar sih, jadi mungkin suka-suka yang nulisnya aja ya. Bagus bangett Becoming kak, aku juga dulu sempat stuck di bagian awal-awal tapi makin lama makin seru.

      Like

  3. Dari ketiga judul yang paling kedengeran menarik itu yang pertama, mungkin karena kesannya lebih ringan ya😅 (walaupun ceritanya thriller, wk). Kalau dilihat-lihat kehidupan tokohnya typical cerita anak SMA banget. Aku kira jadi mean girls itu karakter, tapi kalau ngeliat story-nya Samantha mungkin aja bisa dipengaruhi sama kebiasaan ya, misal dalam casenya dia ya jadi anak orkay🤔

    Like

    1. Iya benerr, ceritanya cukup ringan kok, mungkin karena emang dia Young Adult yaa. Menurutku bisa dua-duanya sih, dari karakter dan lingkungan. Di buku ini juga dijelasin kenapa dia jadi mean girl, salah satunya ya karena berteman sama anak-anak yang kelakuannya begitu jadi dia terpengaruh. Tapi pasti jadi anak orang kaya itu bonus ya dan bikin dia lebih diterima sama mean girls yang lain. Btw makasi udah baca Awl!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s