Ulasan Offline karya Desi Anwar

Ini kayanya the second essay book I’ve ever read ever, dan buku esay pertama yang aku baca adalah Being Indonesian, juga ditulis oleh Desi Anwar. Aku cukup tertarik sama tulisan-tulisan dia karena kayanya dia pinter banget, punya macam-macam pengalaman, dan punya banyak insight menarik, makanya pas aku lihat kedua buku ini di Perpusnas, aku pinjem deh.

Offline adalah kumpulan esai soal Finding Yourself in the Age of Distraction, jadi soal segala macem kegiatan atau barang yang bisa menjadi tempat kita meletakkan pikiran kita yang selalu distracted. Blurbnya bilang:

This collection of reflections is to remind us of some of the things we can turn our distracted mings to, when we can direct our attention to what are in front of us, above us, and more importantly, within us, using all the senses that we were all born with. They are a rediscovery of some of the things we have forgotten how to do or have put aside in favour of our all-consuming electronic toys, and an attempt to help us reconnect once more with our senses and our natural gifts.

Jadi buku ini bukan buku self-help soal gimana caranya jadi Offline dan less distracted, tapi ya soal pikiran-pikiran dia tentang apa aja yang bisa kita lakukan selain mainan elektronik. Sebenarnya isinya ya kegiatan yang biasa-biasa aja dan pasti udah kepikiran sama kita, seperti konsentrasi penuh waktu kita makan, diam aja dan mendengarkan apapun yang kita dengar dengan telinga kita, baca buku cerita, melukis, pergi ke tempat yang masih alami, dan sebagainya. Tapi emang cukup asik aja sih, baca pikiran dan pengalaman Desi Anwar sendiri soal kegiatan-kegiatan itu. Misalnya buku novel yang pertama dia baca, dan kebiasaan dia untuk selalu melakukan 10.000 langkah setiap hari.

On Art

Meskipun aku puas waktu baca ini, ada beberapa poin Desi Anwar yang cukup bikin aku berpikir hmmmmmmmmm gitu hahaha. Yang pertama waktu dia nulis soal melukis, dia membandingkan soal melukis dan fotografi. Betul sih, pasti melukis makan waktu yang lebih banyak, tapi apakah fotografi bukan juga karya seni? Apalagi waktu dia bilang gini:

The artist is gone. And yet, the painting remains. The proof of an existence of one whose passion, whose mood, whose fraught imagination and creativity are reflected in every brush stroke and the canvas as if it were painted yesterday.

Apakah kalau fotografernya meninggal fotonya nggak masih ada? Betul sih, dalam lukisan mungkin akan lebih terasa “nyawa” dan sudut pandang pelukisnya, tapi fotografer yang andal harusnya juga bisa. Tapi fotografer andal dan pelukis andal pastinya ya bukan orang sembarangan.

On Friends

Yang kedua waktu ngomongin soal Friends and Relationships. Desi Anwar menyayangkan soal orang-orang yang pingin punya teman yang terlihat picture perfect padahal mungkin di balik layar hidupnya nggak bahagia, pingin teman yang cantik supaya terlihat bagus di foto. Aku setuju sih soal ini, memang yang seperti itu bukan benar-benar teman, kan? Tapi ya dari dulu sebenarnya ada aja kan orang yang berteman dan menggunakan influence orang lain untuk kepentingan diri sendiri dan bukan karena niat yang tulus.

Dalam bab ini Desi Anwar bercerita soal kita yang merasa harus punya banyak teman di media sosial, menghakimi orang berdasarkan penampilan, dan lain-lain. Tapi dia ngasih contoh teman malah tentang teman-teman yang dia temui di sekolah. Dari sahabat di TK, SD, SMP, SMA, dan bagaimana semua teman-teman tersebut punya keunikan mereka sendiri yang mendukung dia selama masa hidup tertentu.

These types of friends, therefore, real flesh and blood human beings complete with their failings and their uniqueness – unlike the digital entities filling our smart phones in the forms of avatars and profile pictures – can truly help us navigate a complicated world and manage the pains of growing up so that we reach adulthood relatively sane and sound in mind.

Aku setuju bahwa teman-teman kita di sekolah itu penting banget dalam perkembangan kita. Tapi aku ngerasa aneh aja ketika dia ngasih contoh ini sebagai perbandingan dari teman-teman online karena setauku kebanyakan anak sekolah masih punya teman di sekolah, kan? Aku juga ingat bahwa aku punya sahabat yang berbeda-beda tiap naik kelas dan mereka berperan besar banget dalam hidupku, tapi habis itu ya nggak ingat lagi. Teman terdekatku yang paling lama itu dari SMP dan kita nggak ketemu terlalu sering. Maksudku, gimana ya, teman online itu bukan ide yang buruk, kok. Banyak orang yang dapat teman seumur hidup di dunia online. Memang iya kalau pertemanannya terbatas online aja itu pasti beda sama yang offline karena beda ekspektasi tapi bukan berarti pertemanan online nggak bisa sedeep pertemanan offline. Apalagi kalau dibandingkan sama teman-teman sekolah yang kebanyakan besar cuma berjangka waktu terbatas, yaitu sampai kita lulus aja. Karena ya sama teman sekolah kita berteman karena ketemu terus, dan ada ekspektasi untuk ketemu terus yang nggak bisa dilanjutkan selamanya. Memang butuh usaha sih untuk mempertahankan pertemanan itu.

Soal pertemanan ini bikin aku mikir juga. Saat ini aku masih terbilang muda, nggak banyak teman-teman di sekitarku yang udah menikah dan kita sering ngumpul-ngumpul. Apalagi buat teman-temanku yang bukan asli orang Jakarta dan merantau, jadi ya kalau nggak ngumpul akan sendirian di kosan. Tapi semakin lama semakin susah untuk ngumpulin banyak orang untuk main bareng karena kalaupun belum menikah, ada yang tinggal sama orang tuanya, ada yang sibuk kerja dengan jadwal yang unik, ada yang selalu kecapekan, atau mungkin cuma alasan geografis aja yang emang bikin susah. Aku senang sih sampai sekarang masih punya teman-teman baik, tapi aku juga sadar, mempertahankan teman itu butuh effort dari semua orang. Harus ada yang ngajak nongkrong, yang diajak juga harus mau. Kadang-kadang males dan pingin istirahat, tapi kepo juga kan sama gosip-gosip terbaru. Aku sadar juga bahwa oh aku udah diajak, jangan sampai teman-temanku malah yang merasa aku udah lupa dan malas sama mereka dan lama-lama jadi nggak diajak lagi. Aku tahu kalau nggak diajak main ya pasti sedih karena meskipun aku cukup pendiam dan penyendiri, aku senang banget kok berteman hahaha. Jadi ya kadang aku harus mendorong diriku consciously untuk ikut main.

On Parents

Ada juga bab yang aku suka banget soal memahami orang tua kita. Kalau lagi kesal, kita bisa menilai orang tua kita sebagai orang asing yang punya masa lalu dan kebiasaan unik sendiri supaya kita bisa adil dalam menilai mereka. Bukan cuma kita yang belajar dari mereka, tapi orang tua kita juga belajar dari kita.

Should our parents have demands and expectations contrary to ours, we can recognise where they come from, which is probably fromtheir own private dissapointments and unfulfilled dreams that have nothing to do with us. As such, these expectations will not become emotional burdens for us to carry for the rest of our lives. … However, should they insist on putting their own interests and happiness first ahead of ours and in spite of our own, then we can recognise them for what they truly are; merely selfish, egotistical and flawed human beings unlike ourselves. … But that is all. There is no need for guilt and resentment to determine the course of our existence as a result. … Our life and our happiness after all, are our own responsibilities and not for others to shape or determine.

Aku suka karena Desi Anwar menunjukkan bahwa bahkan orang tua yang baik dan ingin yang terbaik untuk anaknya pun, akan bawa beban masa lalu mereka. Dan kalau mereka mau menerima perbedaan opini kita, itu bagus. Tapi dia juga mengakui bahwa ada orang-orang tua di luar sana yang nggak memikirkan yang terbaik buat anaknya, jadi ya kalau gitu ngapain anaknya mikirin mereka? Jadi intinya apapun yang terjadi santai aja, do your best, dan ngga perlu merasa unworthy kalau merasa ngga bisa mencapai keinginan orang tua. Jangan overthinking, lah. Yang penting kita bisa bertanggung jawab dengan pilihan kita aja.

On Learning

Aku juga suka banget bab soal The Importance of Learning yang mencontohkan soal orang-orang dewasa yang belajar sesuatu karena pingin aja. Misalnya belajar bahasa baru, bahkan kuliah lagi dengan tujuan untuk memperluas wawasan aja. Desi Anwar menulis bahwa ini bakal bikin otak kita terbiasa untuk belajar terus, nggak malas. Karena kalau kita jarang berpikir, lama-lama kita bisa sulit membuat opini baru dan akan sulit berubah pikiran kalau menemukan hal-hal baru.

Belajar sepanjang hidup ini bukan cuma belajar formal kok, tapi juga bisa keliling kota, kenalan sama orang baru, belajar masakan baru, atau belajar budaya baru aja. Ini bakal bikin kita lebih open minded. Aku berharap aku bakal bisa terus-terusan menerapkan hal ini dalam hidupku. Punya waktu, energi, dan materi untuk terus-terusan hal-hal random sampai aku tua nanti. Bahasa baru, alat musik baru, resep masakan baru, dan hobi-hobi lainnya yang bikin hari-hariku makin menyenangkan.

Gaya penulisan

Sesungguhnya aku berpikir gaya penulisan Desi Anwar di kedua buku dia yang aku baca agak terlalu flowery, sedikit sok-sok puitis padahal ga perlu dan jadinya bikin kalimat terlalu panjang padahal bisa dibikin lebih singkat. Di buku Being Indonesian nggak terlalu parah aku rasanya, mungkin karena itu adalah koleksi esai untuk majalah berita, tapi di buku ini berasa banget. Contoh dari kalimat-kalimat yang menurutku flowery:

On the rare occasion when his uniqueness and courage elicit admiration, society will reward him with fame, fortune, and stardom, not because it deems him a role model they wish their childrem to emulate, but precisely because they regard him as outside the realms of the normal, superhuman even…

If someone belittles your person, puts down your opinions and dismisses your beliefs, there is no need to give more substance and credibility to their words by reacting angrily to the person, for it only shows how weak and small your opinions and beliefs are that you have to fight to defend them.

Kadang-kadang ada unsur kalimat yang diulang berkali-kali dan ini memang dipakai untuk penekanan. Bukan sesuatu yang jelek, tapi agak terlalu sering jadi lama-lama aku kesal sendiri dan mikir ayo buruaann dan malah skimming bacanya.

Ada juga:

Imagine the number of artists, painters, dancers, poets, philpsophers, innovators, inventors, thinkers, writers, craftsmen, expert builders, chefs, designers, architects, physicists, astronomers, scientists, we will produce in our world, and all those professions that delight in creating and building things, that find enjoyment in innovating and coming up with new solutions, professions that rise from constantly asking questions, challenging established ideas and rejecting tired ideologies.

Yang di atas nggak terlalu flowery sih, tapi itu satu kalimat jadi satu paragraf loh, dan memang panjang banget kalimatnya. Kadang-kadang kalau aku lagi nggak terlalu konsentrasi harus membaca berulang-ulang supaya menangkap maknanya, padahal seharusnya dia bukan sesuatu yang susah dipahami. Memangnya perlu, gitu, nyebutin satu persatu profesi potensial?

Kesimpulan

Aku menikmati baca buku ini, menarik juga mengetahui isi pikiran Desi Anwar dan apa yang dia lakukan untuk mengisi hari-hari dia. Aku juga jadi punya bahan pikiran baru. Seperti yang aku sebut di atas soal pertemanan, soal belajar sepanjang hidup, ada juga soal meditasi, dan lain-lain. Tapi banyak hal-hal yang sebenarnya sudah kepikiran juga sama aku, nothing mindblowing ya, but still a good read, 3/5 stars lah hahah.

3 Comments

    1. Hahaha iya I get it Farah, karena kadang aku kesel juga bacanya. Tapi aku emang ga berpengalaman bangettt baca buku esai jadi ya penasaran aja, dan selama kontennya menarik aku lanjut terus aja deh.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s