Buku yang Kubaca di Juli 2021

Bulan Juli kemarin aku membaca buku cukup banyak, jauh sih dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Biasanya aku baca buku cuma 2-4, bulan kemarin 11 dong!! Hal ini dipengaruhi oleh salah satu buku yang aku baca, yaitu Digital Minimalism oleh Cal Newport. Untuk lebih jelasnya, aku akan membahas satu persatu buku yang kubaca di bulan kemarin.

Digital Minimalism: Choosing a Focused Life in a Noisy World

Digital Minimalism karya Cal Newport adalah buku self-help yang berisi cara-cara untuk menjadi minimalis dalam kehidupan dunia maya. Ada yang bilang buku ini seperti Marie Kondo digital. Wahh aku jadi penasaran, kan.

Seperti Marie Kondo, tahapan pertama yang disarankan oleh Cal Newport untuk kita lakukan adalah Digital Decluttering. Isinya ya menghapus sebisa mungkin kehidupan digital kita dan hanya menyisakan yang penting-penting saja, yang kalau tidak dilakukan akan benar-benar memengaruhi kehidupan kita secara negatif. Ini dilakukan selama sebulan, lalu setelahnya baru kita isi lagi kehidupan digital kita hanya dengan hal-hal yang benar-benar menambah nilai positif ke dalam kehidupan kita. Proses digital decluttering ini tujuannya untuk reset pada kebiasaan kita yang mungkin agak tergantung pada banyak aplikasi digital yang kita gunakan secara mindless.

Rencananya aku akan membuat ulasan lengkap buku ini beserta pengalamanku saat melakukan digital decluttering. Karena buku ini sebulan kemarin aku nggak main mobile game, nggak nonton Youtube untuk hura-hura, nggak buka instagram dan twitter sama sekali. Makanya aku bisa tiba-tiba baca buku sampe 11 biji karena bingung juga mau ngapain. Kesimpulanku saat ini yaa buku ini cukup memberikan langkah-langkah konkret untuk dikerjakan, kalau baca buku ini ya sebaiknya diikuti isinya. Tapi di luar itu, banyak banget isinya yang kurang penting, kaya anekdot dari zaman dahulu kala.

Get a Life, Chloe Brown

Get a Life, Chloe Brown adalah novel romance karya Talia Hibbert yang cukup terkenal. Tokoh utamanya Chloe Brown, seseorang yang menganggap dirinya sendiri “nggak punya kehidupan” karena kerjaannya hanya diam saja di rumah dan bekerja sendirian. Makanya dia membuat sebuah daftar yang berjudul Get a Life List untuk membantu dirinya sendiri punya hidup yang lebih asik. Isinya ada “melakukan perbuatan buruk”, “naik motor”, “mabuk”, “camping” dan “have meaningless sex“. Untungnya nih, pengurus apartemen yang ditinggali Chloe itu ganteng dan sangat ramah, dia jenis orang yang suka membantu semua orang dan disukai oleh semua penghuni apartemen.

Lama kelamaan Chloe dan pengurus apartemen ini, Redford Morgan, menjalin hubungan pertemanan. Redford berjanji akan membantu Chloe dengan beberapa item dalam listnya sementara Chloe akan membuatkan Redford website untuk pekerjaannya. Lama kelamaan mereka semakin dekat dann sama-sama punya perasaan terhadap satu sama lain. Ini adalah salah satu novel romance yang gemes banget ceritanya hehe. Redford orangnya baik banget nggak masuk akal. Sayangnya di ujungnya dia melebih-lebihkan konflik yang mereka alami. Tapi ya buku ini sangat well written dan cukup menghibur.

The Rosewater Insurrection

The Rosewater Insurrection adalah buku kedua dari seri Wormwood, yang buku pertamanya pernah kuulas dengan judul Rosewater: Alien berbentuk tanaman, mikroorganisme, dan hewan. Seri ini terdiri dari tiga buku, jadi akan aku baca seluruhnya dulu baru aku bikin ulasan lengkapnya. Sebenarnya kalau aku mengulas buku ini bisa menjadi spoiler untuk buku pertama. Tapi intinya, Rosewater itu menceritakan kehidupan di kota Rosewater di Nigeria. Kota ini terbentuk ketika sebuah makhluk aneh, yang kemudian diketahui adalah alien, muncul di permukaan bumi dan membentuk kubah. Sekitar setahun sekali, kubah ini akan membuka sedikit dan memancarkan energi yang memberikan penyembuhan bagi orang-orang di sekitarnya. Bisa menyembuhkan kangker, lumpuh, dan sebagainya. Rosewater juga memancarkan energi listrik dari badannya. Ini yang membuat masyarakat akhirnya hidup berkumpul mengelilingi kubah alien ini. Awalnya daerah ini kumuh karena yang datang adalah orang-orang miskin yang mencari penghidupan dan kesembuhan tapi semakin lama, semakin banyak orang hadir dan Rosewater tumbuh menjadi kota yang cukup maju.

Satu hal yang menarik dan aku tuliskan di ulasan pertamaku adalah bentuk dari alien di novel Rosewater ini. Aliennya tidak seperti manusia, jadi berbeda dengan yang biasa digambarkan di film-film. Melainkan, mereka bisa berbentuk tanaman, mikroorganisme, dan hewan. Tentu ada yang bisa menyerupai manusia, tapi itu bukan “bentuk utama”. Di akhir buku pertama kita akan tahu bahwa alien-alien ini memang datang ke bumi untuk mencari planet baru yang bisa mereka tinggali. Planet mereka sudah rusak dan mereka memiliki teknologi yang mumpuni untuk mengirim makhluk-makhluk perintis untuk scouting wilayah yang mungkin bisa ditinggali. Salah satunya ya si Wormwood ini, si alien kubah. Salah satu dari teknik penjajahan yang dilakukan oleh Wormwood adalah menyebarkan mikroorganisme semacam jamur di udara yang membuat para alien semakin lama semakin merasuki tubuh manusia. Jadi lama kelamaan setiap manusia akan memiliki unsur alien di DNA-nya. Dalam buku ini kita akan melihat berbagai kejadian yang terjadi setelah Kaaro, tokoh utama kita yang merupakan mantan agen militer, mengetahui tujuan alien-alien tersebut ada di bumi.

Novel ini mengandung banyak unsur yang menarik. Ada politiknya, sci-fi juga, action juga, asik deh. Kita akan bertemu juga dengan wali kota Rosewater dan membaca mengenai pilihan-pilihan yang dia ambil ketika kotanya terancam. Ia juga berada di tengah banyak tekanan, dari pemerintah pusat Nigeria, militer lokal, hingga tekanan alien, hahaha jadi ya memang unik dan menarik. Buku ini fokus pada beberapa karakter, tidak hanya Kaaro saja seperti buku pertama. Tapi ada juga si wali kota, penduduk Rosewater yang “kerasukan” alien, juga Aminat, pacar Kaaro yang ternyata juga merupakan agen rahasia.

Salah satu keunggulan seri ini (yang bisa jadi kekurangan bagi beberapa orang) adalah meskipun futuristik, dia latarnya not-so-distant future. Latarnya itu di tahun 2060-an jadi soal world building nggak terlalu repot karena nggak terlalu berbeda dengan dunia kita saat ini. Memang agak bingung waktu membaca penggambaran alien dan kotanya, tapi secara keseluruhan ini dunia yang masih realistis.

Too Like the Lightning

Too Like the Lightning karya Ada Thompson juga merupakan novel bergenre science-fiction. Ini adalah buku pertama dari seri Terra Ignota yang buku terakhirnya akan keluar tahun ini. Sengaja aku taruh di sini supaya agak bisa dibandingkan gitu. Sesungguhnya aku mau nulis ulasan tersendiri tapi belum selesai hehe. Kesamaan buku ini dengan Rosewater itu yaa dua-duanya sama-sama science-fiction dan berlatar di masa depan. Keduanya juga punya unsur politik yang cukup kuat, meskipun di seri Rosewater ini baru di buku kedua. Terus kedua buku ini tokoh utamanya sama-sama laki-laki berusia 30-40an tahun. Range-nya agak besar yaa haha tapi kan kebanyakan novel yang aku baca itu tokoh utamanya masih 20-an lah jadi ini cukup mencolok gitu dalam pikiranku.

Selain beberapa kesamaan di atas, sebenarnya kedua buku ini sangat berbeda, sih. Menurutku perbedaan yang paling mencolok adalah cerita ini berlatar di very-distant future, tepatnya di tahun 2454. Jadi untuk world building cukup abstrak, banyak banget yang harus dibayangkan. Sudah tidak ada lagi negara-bangsa yang memiliki batas-batas geografis, tidak ada lagi hukum negara maupun internasional, norma dan hukum yang dianut masyarakat juga sangat berbeda. Ini sih jadinya yang mungkin bisa jadi hambatan untuk baca buku ini.

Tapi buku ini juga menurutku sangat menarik. Banyak konsep-konsep menarik yang diangkat sama penulisnya, misalnya negara yang tidak berdasarkan batas geografis, sistem kepercayaan yang berbeda-beda tiap orang yang basically sinkretisme, dan adanya tabu menggunakan he dan she karena merujuk pada jenis kelamin seseorang itu dianggap tidak sopan. Sangat recommended meskipun aku juga butuh waktu saat bacanya haha.

Emotional Agility: Get Unstuck, Embrace Change, and Thrive in Work and Life

Emotional Agility karya Susan David adalah buku self-help kedua yang aku baca di bulan kemarin. Aku iseng aja beli di Kobo karena lagi diskon dan aku ngerasa kayanya bisa bermanfaat buat aku yang sering langsung ngerasa down kalau ada sedikit aja hambatan dalam hidup. Aku tahu ini bukan kebiasaan yang bagus dan aku pingin sekali berubah. Harapanku buku ini bakal membantu ngasih aku langkah-langkah konkret untuk semakin baik lagi.

Emotional Agility atau kelincahan emosional adalah kemampuan untuk bersikap fleksibel dengan pikiran dan perasaan kita sehingga kita bisa memberi respon yang optimal pada situasi sehari-hari. Emotional agility akan mengajarkan kita untuk tenang dan memilih perbuatan kita dengan niat. Maksudnya ya jangan ketika ada suatu kejadian yang tidak mengenakkan lalu kita berbuat tanpa berpikir, sebaiknya kita diam, memikirkan apa yang sebenarnya kita rasakan, lalu baru berbuat sesuatu. Ada beberapa tahapan di buku ini, yaitu Hooked => Showing Up => Steping Out => Walking Your Why => Moving On => Thriving

Satu konsep penting yang cukup menarik bagiku adalah Hooked, yang mungkin bisa diterjemahkan menjadi nyangkut? Maksudnya adalah ketika kita sudah terbiasa dengan situasi tertentu sehingga kita akan nyangkut pada cara berpikir tertentu. Yang bisa berakhir dengan melakukan sesuatu dengan refleks. Di beberapa situasi seperti bela diri mungkin ini nggak akan jadi masalah, tapi yang mungkin sehari-hari kita alami seperti kegagalan atau penolakan, di situ bisa jadi masalah. Cara kita merespon pada kegagalan ketika masih sekolah, misalnya, bisa saja terbawa hingga dewasa dan memengaruhi bagaimana kita merespon pada kegagalan di tempat kerja. Ini yang tidak baik. Makanya sebaiknya kita benar-benar merasakan apa yang kita rasakan lalu bertindak sebagaimana yang kita pikir adalah tindakan terbaik.

Aku nggak menyesal sih membaca buku ini, meskipun sepertinya aku akan buka-buka lagi bukunya supaya aku selalu ingat sama apa yang ada di dalamnya. Beneran banyak informasi yang bisa berguna.

People We Meet on Vacation

People We Meet on Vacation karya Emily Henry adalah novel romance yang menceritakan tentang dua orang teman yang sering melakukan perjalanan bersama setiap tahun selama sepuluh tahun. Emily Henry juga menulis Beach Read, novel romance lain yang cukup terkenal dan aku juga suka makanya aku semangat banget untuk baca yang ini. Kovernya juga gemay sekali.

Poppy dan Alex adalah sepasang teman kuliah. Mereka menjalin pertemanan karena keduanya berasal dari kota kecil yang sama dan berkuliah di kota besar. Poppy jatuh cinta pada kehidupan perkotaan dan ia kemudian merintis karir di New York sebagai penulis majalah perjalanan mewah. Sementara Alex kembali ke Linfield, kota kecil tempat ia tumbuh dewasa untuk menjadi guru sekolah. Berawal dari pembicaraan main-main, kemudian mereka saling berjanji untuk jalan-jalan bersama. Ini kemudian berulang setahun sekali. Poppy dan Alex tidak pernah membicarakan perasaan romantis di antara mereka dan selama ini mereka sering berada dalam hubungan serius dengan pasangan masing-masing. Sampai dua tahun lalu ketika sesuatu terjadi dalam perjalanan mereka dan sejak saat itu mereka tidak saling berhubungan lagi.

Tahun ini Poppy berkesempatan untuk mengajak Alex jalan-jalan lagi. Ia ingin memperbaiki hubungan mereka yang rusak dua tahun sebelumnya. Aku suka sih sama cerita ini. Kedua tokoh utama sama-sama orang yang baik dan ingin yang terbaik untuk temannya. Mereka saling memahami kondisi satu sama lain meskipun tentu ada egois juga kadang-kadang, tapi itu kan alami. Seperti kebanyakan buku romance lain, di buku ini juga ada konflik yang terjadi di sekitar 80% buku dan sudah kebaca sih konfliknya apa tapi menurutku agak dilebih-lebihkan, apalagi sama si Alex. Itu saja sih kekurangannya. Selain itu aku suka buku ini. Penulisannya bagus dan bikin aku pingin jalan-jalan juga.

A Brit on the Side

A Brit on the Side karya Brenda St. John Brown ini memang kovernya sangat cheesy tapi kebetulan buku ini lagi gratis di Kobo jadi aku pikir kenapa tidak hahaha. Buku ini menceritakan soal Bea, seorang guru asal Amerika yang berlibur selama musim panas di Inggris. Ia menginap di hotel milik keluarga temannya, Scarlett. Hotel ini bernama Castle Calder yang juga menjadi nama seri buku ini. Hotel ini adalah semacam kastil tua yang dijadikan hotel kecil, semacam bisnis keluarga gitu. Jadi biasanya memang seluruh keluarga ikut saling membantu. Bea juga memang akan bekerja di hotel karena dia mendapat tempat tinggal dan makanan gratis.

Romance dalam buku ini mungkin sedikit CLBK karena tokoh utama laki-lakinya, Jasper, sudah pernah bertemu dengan Bea beberapa tahun lalu. Mereka sudah menghabiskan waktu bersama waktu dia ke Amerika dan setelah pulang mereka tidak saling berhubungan lagi. Jasper adalah kakaknya Scarlett jadi Bea dan Jasper sama-sama berhati-hati untuk menyembunyikan hubungan mereka berdua. Scarlett punya alasan sendiri kenapa ia tidak mau kakaknya pacaran dengan temannya.

Buku ini sangat light hearted, inti ceritanya sih cukup asik dan bikin aku penasaran dan pingin lanjut terus. Tapi sebenernya banyak banget sih kekurangannya. Aku rasa penulisnya punya banyak banget isu yang pingin dia omongin. Dari body image, trauma, dan isu-isu berat lainnya tapi jadinya nggak ada yang dibahas terlalu dalem dan aku ngerasa nggak perlu aja gitu. Terus konfliknya juga sebenarnya agak dibesar-besarkan. Memang, sih, ada alasan yang valid kenapa Scarlett nggak mau temennya pacaran dengan kakaknya, tapi alasannya adalah kejadian di masa lalu yang sudah berlalu lamaaaa sekali. Setiap orang pasti akan berubah, kan? Mereka jadi terkesan bocah aja sih padahal si Jasper ini ceritanya lagi PhD. Intinya ya aku nggak begitu puas dengan buku ini, kalo nggak gratis aku memang nggak akan baca juga.

Pandemi Covid 19: Kapitalisme dan Sosialisme

Pandemi Covid 19: Kapitalisme dan Sosialisme ini penulisnya banyak banget jadi aku nggak tulis satu-satu di sini hahaha tapi sudah aku buat listing-nya di Storygraph sekalian buat melacak bacaanku kemarin. Buku ini sebenarnya didefinisikan sebagai buku saku karena secara halaman nggak terlalu banyak dan sepertinya kalau dicetak juga ukuran fisiknya kecil. Jadi pas aku baca di ereader-ku nggak perlu zoom in dulu.

Seperti yang sudah kubilang, buku ini ditulis oleh satu tim, mereka dari organisasi Intrans dan buku saku ini bisa diunduh di website mereka. Bukunya pendek, diawali dengan sejarah bagaimana manusia dulu hidup dan sejak kapan sebenarnya kapitalisme merasuki kehidupan kita. Awalnya juga aku kira ini bakal semacam kumpulan esai, tapi untungnya enggak sih dia satu tulisan panjang yang terbagi ke bab-bab pendek jadi gampang dibaca.

Pasti sebagian besar dari kita sejak awal pandemi punya banyak kekesalan kaya “kenapa sih pemerintah malah melakukan ini?” “kenapa nggak dari awal diberlakukan UU Karantina?” “kenapa bego banget semuanya?” dan memang banyak pengambil keputusan di sana yang punya alasannya masing-masing tapi buku ini membantu memberi perspektif lain. Bahwa pasti ada kelompok-kelompok penekan (pressure group) yang bisa mendorong pemerintah untuk mengambil keputusan yang menguntungkan sekelompok ini. Buku ini ditulis September 2020 jadi ada beberapa fakta yang mungkin agak ketinggalan karena perubahan keadaan pandemi cepet banget. Tapi bukan berarti keadaan jadi makin baik kan? Makanya geregetan banget dan agak bikn hilang harapan untuk hidup lol.

Sesungguhnya buku ini juga mengingatkan kalau nggak semua pengusaha itu adalah kapitalis yang eksploitatif, tapi banyak kok pengusaha/pedagang/perajin yang bekerja sesuai kemampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan saja. Aku juga berhari-hari ini kesal terus lihat berita yang isinya “pengusaha menangis karena ppkm” kaya why tf should I care???? aku juga harus ingat sih bahwa nggak semua pengusaha itu punya banyak uang untuk fallback ketika ada masalah macam ini. Semacam pemilik toko-toko kecil yang nggak diingat orang kalau nggak dilewatin, apa kabar mereka sekarang? Makanya sih memang seharusnya dari awal kita rip the bandaid dengan karantina/lockdown gitu. Karena memang iya, pasti rugi dan banyak keluar duit kalau mau bener-bener mengerahkan militer dan atau polisi dan ngasih sembako seperti di Vietnam dan Korsel, tapi dalam jangka panjangnya, itu jauh lebih bagus daripada dua tahunan hidup dengan kondisi tidak normal dan jutaan orang meninggal sebagai akibatnya.

Burying Water

Mari kita kembali ke novel romance. Burying Water bukanlah novel karya K. A. Tuker pertama yang aku baca. Aku pernah baca The Simple Wild sebelumnya dan itu adalah jenis cerita romance yang cukup angsty ahhaha bener-bener bikin aku merasa feeling feels dan menangos dan lain-lain. Makanya aku memilih baca ini.

Tokoh utama cewek di Burying Water adalah Jane Doe. Kalau di Indonesia semacam “sebut saja Mawar” karena dia ditemukan di lapangan dengan keadaan sekarat habis dianiaya dan polisi nggak menemukan siapa yang melakukannya. Tapi dia dirawat sama dokter yang baik dan bertemu nenek-nenek tukang ngomel yang suka sama dia. Waktu dia dilepaskan dari rumah sakit dengan keadaan hilang ingatan total, si nenek-nenek ini bersedia menampungnya asal dia mau bekerja di ladang. Membersihkan tai kuda dan ngasih makan kuda dan sebagainya. Cewek ini juga menamakan dirinya sendiri Water karena dia punya tato berbentuk air di badannya dan dia benar-benar nggak ingat apapun yang terjadi sebelum dia bangun di rumah sakit.

Water tinggal bertetangga dengan dokter yang merawat dia dan keluarganya. Dia juga kemudian dekat dengan Jesse, anak dokter tersebut. Terjalinlah hubungan romantis di antara mereka berdua, padahal sebenarnya Jesse tahu apa yang terjadi pada Water sebelumnya. Ada salah satu plot twist di buku ini yang nggak bisa aku tebak. Tapi tetep menyebalkan sih. Hmmmm mungkin buku ini bisa dikasih 3/5 bintang lah.

Becoming Rain

Becoming Rain adalah buku kedua dari seri Burying Water. Ini adalah jenis seri yang setiap buku di dalamnya membahas orang-orang di sekitar tokoh utama. Jadi di buku pertama salah satu tokoh utamanya adalah Jesse, di buku ini tokoh utamanya adalah sahabatnya Jesse, yaitu Luke Boone. Luke Boone adalah teman Jesse dari kuliah. Tapi Luke punya om yang tajir dan punya berbagai bisnis dari jual beli mobil hingga bengkel yang cukup sukses. Omnya Luke yang bernama Rust seperti mengangkat Luke sebagai anaknya sendiri karena membiayai Luke sekolah mesin dan juga kuliah. Dia mempersiapkan Luke untuk menjadi penerusnya di berbagai bisnis yang dia miliki.

Rust yang tajir melintir sebenarnya punya banyak bisnis lain di belakang kedua bisnis legal yang terlihat jelas. Dia termasuk dalam kelompok mafia pencurian mobil yang kemudian mempereteli mobil atau menjualnya utuh ke luar negeri supaya nggak mudah dilacak polisi. Luke tahu bahwa omnya terlihat dalam bisnis ilegal tapi dia nggak tahu sebesar apa bisnis ilegal ini. Tapi Luke ingin terlibat karena dia ingin punya uang sebanyak omnya.

Di sisi lain, seorang polisi ditugaskan untuk melakukan penyelidikan terhadap Rust karena dia bagian dari sindikasi pencurian mobil yang sudah lama diincar polisi. Namanya Clara, dan dia disuruh menjadi polisi undercover dengan mendekati Luke untuk nyari informasi yang bisa digunakan untuk memasukkan omnya ke penjara, sekaligus sama sindikatnya. Clara mengambil nama samaran Rain dan dia pura-pura jadi anak orang kaya tanpa kerjaan yang tinggal di apartemen mewah dekat dengan Luke.

Clara pingin banget masuk FBI dan pekerjaan ini akan sangat membantu ngasih dia referensi (baca: orang dalem) untuk memudahkannya masuk FBI makanya dia berusaha keras. Seperti yang bisa diduga, Clara dan Luke jadi makin dekat dan lama-lama dia susah memisahkan perasaan dengan pekerjaan. Aku suka banget sama buku yang ini!!! Ceritanya menarik dan menyenangkan. Aku bahkan lebih suka ini daripada buku pertama. Bagus aja sih karena kedua tokohnya punya ambisi profesional masing-masing dan hubungan antara mereka berdua juga gemay. Jadi I love it.

Ugly Love

Ini satu lagi buku romance yang sebenarnya aku baca di awal banget bulan. Fine fine aja. Nggak bagus, nggak jelek. Sejujurnya cukup forgettable makanya aku udah lupa hahaha.


Sekian banyak buku yang aku baca di bulan Juli. Aku sampai bingung tumben banyak banget apa perlu dibikin jadi dua post? Tapi aku rasa kaya begini akan lebih gampang buat aku sendiri track bacaanku.

Dari ketiga buku nonfiksi yang aku baca, ketiga-tiganya aku rekomendasikan, terutama yang Pandemi Covid-19 karena bisa menambah perspektif banget untuk melihat kondisi pandemi saat ini. Bukunya juga pendek jadi cepet diselesaikannya. Terus di antara kedua buku self help dua-duanya punya kelebihan dan kekurangan. Yang Digital Minimalism menurutku terlalu banyak anekdot dari zaman dahulu yang kurang relate di zaman sekarang sementara Emotional Agility secara umum emang panjang banget aja haha. Tapi keduanya punya nasihat-nasihat yang bisa dilakukan sih.

Terus dari kedua buku science fiction, dua-duanya aku akan lanjutkan. Dua-duanya aku suka banget sampai aku bingung mau ngelanjutin Wormwood dulu atau Terra Ignota dulu. Dan dari kelima (bener lima ngga tuh) buku romance yang kubaca, aku suka banget sama People We Meet on Vacation dan Becoming Rain. Itu sih yang paling aku rekomendasikan, semoga bermanfaat dan kalau punya rekomendasi buku yang kira-kira bakal aku suka, boleh banget untuk disampaikan.

7 Comments

  1. Seru banget sih bacain ulasan-ulasannya, nggak kerasa tau-tau udah beresan aja meskipun panjang😅 Soalnya judul-judulnya menarik. Terutama pas lihat judul Digital Minimalism, langsung kuklik link-nya karena lagi proses digital decluttering juga sekarang. Mudah-mudahan aja bisa konsisten🤣
    By the way, Kobo itu aplikasi untuk buku-buku kah kak? Aku penasaran karena dari tadi mention soal itu. Kebetulan juga lagi ingin nambah-nambah referensi platform baru untuk baca buku kalau lagi bingung mau ngapain, hehe.

    Like

    1. Wahhh makasih banyak udah baca sampe selesai mbak!! Aku terharu wkwk. Iyaa bagus kok buku Digital Minimalism. Aku sendiri ngga terlalu konsisten sih karena cuma sebulan aja praktiknya habis itu mulai lagi meskipun nggak separah biasanya.

      Iya kobo itu semacam kindle gitu kak. Jadi utamanya dia adalah device ereader nya dan karena aku punya device kobo jadi aku sering cek-cek tokonya kobo. Dia punya mobile app juga kok. Lumayan sih meskipun nggak berencana beli apapun, di sana suka ada buku gratis yang bisa langsung didownload. Aku kadang beli ebook juga di sana tapi biasanya nunggu diskon 😂

      Liked by 1 person

  2. Hai kak, salam kenal! Banyak juga ya buku yang dibaca bulan lalu. Mataku langsung tertuju pada digital minimalism. Udah punya buku ini tapi belom juga dibaca xD apakah bukunya bisa langsung dipraktikkan kaya konmari kak?

    Like

    1. Haloo salam kenal Kak Lulu. Iyaa bukunya bisa dipraktikkan kok. Jadi di bab ke-2 kalo ga salah dia langsung praktik dan ngasih instruksi. Dia juga ada kaya saran-saran apa aja yang bisa kita lakukan sambil decluttering itu karena pasti bakal bosen kan bingung mau ngapain kalo ngga bisa scrolling di hp 😄 cuman kurangnya adalah pasti banyak yang harus kita sesuaikan karena hidup di zaman pandemi itu beda sama masa-masa normal.

      Like

  3. Aku sempat baca Digital Minimalism tahun 2018 lalu & setelah tamat memang langsung ambis digital decluttering sih. Sayang sekali kebiasaannya belum awet. Tapi screen time-ku secara keseluruhan memang lebih baik belakangan ini.

    Aku juga setuju dengan poinmu tentang konflik yang dipanjang-panjangkan di akhir novel Chloe Brown. Sayangnya, buku romance yang aku baca banyak yang begini, Anindya 😦 Anindya ada rekomendasi romance yang nggak ada third act-conflict kah?

    Like

    1. Iya samaaa haha aku juga decluttering beneran selama sebulan tapi habis itu balik lagi meskipun ada yang berkurang. Pinginnya terus sih tapi aku kurang istiqomah kayanya 😂

      Emang agak susah ya kalau romance yang bener-bener isinya romance doang. Karena third act conflict itu emang cara paling jelas untuk bikin klimaks dalam cerita. Yang keselnya kalau ada third act breakup ga sih kaya ketebak banget gitu. Tapi emang guilty pleasure ajasih aku baca romance. Aku juga bingung untuk rekomendasi apa yang nggak ada third act conflict-nya… sejujurnya aku cepet lupa kalau habis baca buku hehehe.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s